[Kamu pulang dulu.]
Sekali lagi bukan jawaban langsung. Aku menatap sekeliling. Suara jalanan seharusnya memekakkan telinga. Klakson-klakson berlomba menunjukkan siapa yang paling nyaring. Sedangkan terik matahari perlahan ikut memanaskan suasana hatiku. Namun kepalaku kosong.
Kilatan mimpi semalam satu per satu kembali terlintas. Segalanya tampak serba putih. Entah karena halusinasi ingatan mimpi atau sinar matahari yang membuat mataku menyipit.
Aku menggigit bibir keras. Genangan air mata perlahan mengalir. Pandanganku memburam. Bukan karena kabut tebal yang tiba-tiba memenuhi kota Surabaya, apalagi asap knalpot kendaraan yang sedang bertanding, mengadu siapa yang paling cepat.
“Pertama, aku harus segera ke apotek.”
Keputusan itu terucap. Tak ada yang mendengar. Aku berbicara pada diriku sendiri, agar menghentikan kekalutan dan kembali menjalankan realita. Kulajukan sepeda motor melewati gedung fakultasku, tepat di antara fakultas farmasi dan fakultas hukum, aku belok kanan menuju gerbang keluar kampus.
Di depan bangunan dengan tulisan logo berwarna biru, jingga dan putih, aku menepikan sepeda motor lalu masuk ke dalam lahan parkirnya, dan meletakkan sepeda motorku di sana. Perempuan separuh baya dengan seragam biru langsung menyapa sesaat pintu kaca dibuka.
“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” tanyanya tak lupa dengan senyuman ramah.
“Sebentar, Bu.”
Aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket. Logo bertuliskan Sony Erricson tampak sedikit berdebu. Aku mengusapnya pelan, kemudian membuka pesan terbaru dari Bunda. Sebuah foto botol obat berwarna hijau dengan gambar ikan hiu.
“Mau beli ini, apa ada di sini?” tanyaku seraya menunjukkan foto yang dikirim Bunda.
“Oh, iya. Ada.”
Petugas itu berjalan menuju salah satu rak mengambil sebuah botol dan menunjukkannya padaku.
“Apa benar ini vitaminnya?” tanyanya.
Kubuka kembali gambar yang Bunda kirim, membandingkan botol vitamin yang disodorkannya dengan gambar tersebut.
“Benar. Itu vitaminnya.”
“Kalau begitu bisa langsung di bayar di kasir ya,” jelasnya seraya memberikan vitamin tersebut.
Apotek itu benar-benar sepi. Hanya ada aku pembeli di sini, sedangkan beberapa perempuan berseragam berdiri di antara rak obat-obatan dan kasir.
“Tiga ratus ribu,” ucap petugas lainnya dengan seragam yang sama, berdiri di balik mesin kasir.
“Pakai kartu debet, bisa?”
Kukeluarkan dompet lipat Dagadoe berwarna merah muda dari dalam tas. Sedikit senada dengan warna tas serta jaketku. Merah maroon.
“Kalau pakai kartu debet bank ini, apa kena charge?” tanyaku seraya menunjukkan kartu debet dari satu-satunya bank syariah yang ada saat ini.
“Iya, tetapi cuma satu persen kok.”
Aku menyodorkan kartu berwarna ungu dan abu-abu kepada penjaga kasir. Dia mengeluarkan mesin EDC dan memasukkan kartuku ke sana.
“Mau pakai pin atau tandatangan?” tawarnya.
“Pin aja.”
Tampak sedikit rasa lega di wajahnya. Pin ataupun tanda tangan, tak ada bedanya bagiku. Tabungan ini benar-benar milikku sejak menginjak Sekolah Menengah Pertama. Aku selalu menyisihkan uang sangu selama beberapa bulan, kemudian menyetorkannya ke bank setelah mencapai nominal seratus ribu. Enam digit angka yang kuhapal pasti, kutekan dengan cepat. Tak lama layar mesin itu menunjukkan kata ‘Approved’.
“Kalau boleh tahu, ini cuma untuk multivitamin atau ada kerabatnya yang harus dikemoterapi?” tanya petugas itu seraya memberikan tas plastik berwarna putih dengan logo apotek berisi multivitamin tersebut.
“Kalau untuk kemo, ini ada multivitamin lain yang bisa menjadi tambahan. Bisa diminum bersamaan kok. Ini bisa semakin menambah kekebalan tubuh.”
Tubuhku memaku. Sesaat aku lupa bagaimana caranya bernapas. Penjaga kasir itu masih menatapku dengan tersenyum ramah, menunggu jawabanku atas tawarannya.
Aku terkesiap, menggeleng perlahan. “Nggak Bu, ini saja. Terimakasih.”