Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #9

Aroma yang Tak Pernah Pergi

Perlahan aku mendekati lemari baju Nenek, mengambil salah satu saputangan yang disusun rapi di baris ke dua. Bau parfum langsung tercium. Nenek selalu menyemprotkan parfum ke saputangan miliknya. Setiap pergi kemana pun, saputangan selalu ada di dalam tasnya. Apalagi Nenek selalu kemana-mana menggunakan becak.

“Di jalanan banyak debu, Lily. Kamu harus selalu menutup hidungmu dengan saputangan, agar polusi-polusi nggak masuk ke saluran pernapasan kita.”

Itu nasehat yang selalu Nenek lontarkan ketika kami pergi berdua. Tetapi aku selalu tak mengindahkannya, entah kenapa aku tidak menyukai bau parfum sedari kecil. Kututup lemari, kemudian berjalan mendekati tempat tidur Nenek, sedikit membungkuk lalu duduk di dekatnya.

“Aku akan menghangatkan lagi air minum untuk Nenek,” tawarku seraya mengelus pelan tangan kanan Nenek. Dengan halus kubuka genggaman tangan itu, mengambil saputangan dan menggantinya.

Nenek menatapku heran.

“Saputangan yang ini sudah kotor, Nek,” sahutku tidak berbohong.

“Lebih baik Nenek ganti dengan saputangan yang baru, biar yang lama kutaruh bak cuci.”

Usai meraih termos air yang sudah ringan serta saputangan, aku bangkit dari posisi duduk. Pikiranku kalut, ingin segera memastikan noda apa yang ada di saputangan itu. Namun belum sempat menjauh, Bunda memegang tanganku.

“Apa kamu menyimpan saputangan di lemarimu?” tanya Bunda.

Aku mengangguk ragu. Bukankah aku baru saja mengganti saputangan Nenek dengan yang baru? Selain itu, apa Bunda juga melihat noda darah di saputangan sebelumnya, tetapi diam saja?

“Biar Nenek pinjam saputangan milikmu saja,” perintah Bunda menatapku lurus.

“Sepertinya ukuran saputanganmu lebih besar dari punya Nenek, jadi lebih nyaman digunakan.”

Nada bicara Bunda ... terdengar aneh. Entah aku yang terlalu peka, atau pikiranku yang berlebihan.

Arah mata Bunda masih tidak berubah. “Tolong ambilkan saputangan milikmu.”

Bunda melepaskan tanganku, membiarkanku menjauh dengan ragu. Beberapa kali aku menoleh ke belakang. Namun tak ada yang aneh. Bunda kembali memijat punggung Nenek sambil bercengkerama.

“Sebaiknya kamu pulang sekarang,” bujuk Nenek.

“Nanti bisa-bisa kamu terlambat menjemput adik-adik Lily.”

Selalu saja Nenek mengingatkan Bunda untuk tidak berlama-lama di sini. Masih banyak hal yang harus diurus Bunda.

“Tenang, Bu. Aku sudah meminta pak sopir untuk berangkat menjemput mereka. Dia sudah berangkat setengah jam yang lalu.”

Entah apa jawaban Nenek, aku hanya mendengar suaranya seperti bisikan lalu.

“Bu, jangan pakai saputangan ini. Biar pakai saputangan milik Lily saja.”

Kalimat itu terdengar jelas sebelum aku semakin menjauh dari kamar Nenek. Terakhir sempat kulihat Bunda beranjak dari duduknya, dan membuka lemari kayu tua untuk mengembalikan saputangan itu.

Aku sedikit berlari. Takut tiba-tiba Nenek batuk lagi beberapa kali, dan membutuhkan saputangan serta air hangatnya. Beruntung jarak kamarku dan Nenek tidak jauh. Walaupun tidak langsung berdampingan, atau berhadapan.

Gelap pekat langsung menyapa sesaat kamar kubuka. Udaranya sedikit terasa pengap. Saat ini pintu garasi tertutup rapat, membuat tak ada udara yang masuk ke kamarku. Ditambah panasnya Surabaya yang sedikit berbeda dibanding kota-kota lainnya.

Aku melempar tas yang sedari tadi menempel di punggung, ke atas meja belajar. Melepaskan jaket dan meletakkan asal. Rasa panas dan pengap sedikit berkurang ketika jaket itu kulepas. Tanpa memerhatikan sekitar, aku hanya berfokus pada lemari pakaian tiga pintu yang berdiri tegap di salah satu sisi kamar. Tepat di samping jendela.

“Saputangan,” bisikku.

“Dimana aku meletakkannya?”

Walaupun Nenek membiasakanku menggunakan saputangan ketika bepergian, tetapi benda itu bukan termasuk benda penting yang selalu kubawa kemana-mana. Itu yang membuatku menyimpannya asal-asalan, hingga susah mencarinya di saat genting seperti ini.

Aku menarik laci yang berada tepat di bawah rak, salah satu bagian dari lemari pakaian tiga pintu itu. Bermacam tumpukan kain, mulai dari kain waslap, handuk kecil, kaos tangan, serta saputangan. Kuambil saputangan berwarna biru laut, yang berada paling atas, kemudian bergegas kembali.

Namun baru beberapa langkah, kuurungkan niatku dan berbalik menuju lemari lagi. Kali ini kuambil dua saputangan, masing-masing berwarna hitam dan biru dongker.

Lihat selengkapnya