“Kenapa dokter bicara seperti itu?”
Bibirku bergetar, dadaku terasa begitu sesak. “Dia bukan Tuhan.”
Bunda meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. “Sst, jangan berteriak, Ly ....” pintanya.
“Nanti Nenek bangun dan mendengarnya.”
Bunda melangkah kembali mendekati sofa, kemudian duduk di sana.
“Bunda juga berpikiran yang sama, tetapi bukan berarti kita harus marah dan meluapkan emosi yang ada.”
Mataku menatap lantai keramik. Bayanganku pun terdiam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku tidak menangis. Tak ada air mata yang keluar. Tepukan pelan Bunda di pundak semakin membuat tubuhku bergetar.
“Kamu tenangkan diri kamu,” ucap Bunda datar. Terdengar tanpa emosi.
“Kembalilah ke kamar kalau kamu butuh waktu sendiri, Bunda akan memasak makan siang untuk kita semua.”
“Bunda nggak pulang?” tanyaku.
“Adik-adik bagaimana?”
Bunda menggeleng pelan. “Mungkin Bunda di sini dulu sampai sore atau malam. Kamu persiapkan diri juga untuk kembali ke rumah Bunda.”
Aku menunduk. Pandanganku terpaku pada bayanganku di lantai. Tak terlihat dengan jelas wujudnya. Kugerakkan kaki melihat bayangan itu bergerak memanjang. Sayangnya kepalaku begitu berat, dia masih mencoba menelaah satu per satu kata-kata Bunda.
“Kamu dan Nenek lebih baik tinggal di rumah Bunda lagi. Bunda cemas kalau Nenek harus di sini sendirian ketika kamu sibuk dengan urusan kampus.”
Satu anggukan. Hanya satu. Tak ada bantahan. Keinginanku meluap entah kemana.
“Kalau begitu, aku akan membereskan barang-barangku di kamar,” sahutku begitu lirih.
“Kamu nggak perlu segera membereskan barangmu hari ini.”
Bunda menarik tanganku. “Kamu bisa menyicilnya pelan-pelan. Bahkan kalau kamu mau berdiam diri di kamar dulu juga nggak apa-apa.”
Tangan Bunda menepuk-tepuk punggung tanganku. “Bunda masih di sini sampai nanti. Kamu beri waktu untuk dirimu sendiri dulu.”
Kedua tangan Bunda beralih ke lenganku, dipegangnya erat seraya menarik agar aku ikut berdiri. “Sekarang kembalilah dulu ke kamar,” usul Bunda.
Aku melangkah gontai, meninggalkan Bunda yang masih duduk di sofa ruang tamu. Sekilas Bunda tampak menyandarkan punggungnya di sofa, menengadahkan kepala lalu menmejamkan mata.
Sesaat melewati kamar Nenek, kuputuskan untuk melihatnya sebentar. Pintu kamar kubuka pelan-pelan, namun derit lirihnya tetap mengganggu tidur nyenyak Nenek.
“Apa itu kamu, Ly?” tanya Nenek masih dengan mata terpejam.
“Iya, Nek.”
Kuhapus air mata, membasahi tenggorokan beberapa kali agar suara sengauku menghilang.
“Kamu mau makan siang dengan apa?” Nenek membuka matanya, menatapku.
“Katanya Bunda yang akan masak, Nenek mau makan dengan apa?”
Aku mengambil alih, agar Nenek bisa istirahat lagi. Cubitan kecil menerpa lenganku tepat ketika aku duduk di ranjang dekat Nenek yang masih berbaring.
“Bundamu masih ada di sini?”
Nenek bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
“Apa pak sopir belum datang?”
Seperti biasa, Nenek selalu khawatir dengan segala hal.
“Minta Bundamu cepat pulang, kasihan adik-adikmu kalau ditinggal terlalu lama,” ucap Nenek.
Aku berdesis, “Nek, mereka sudah besar. Justru kalau Bunda nggak di rumah, mereka senang karena bebas nonton TV ataupun main game.”
Kembali cubitan kecil kuterima.
“Ya ndak apa-apa, toh, kalau mereka mau main game ataupun menonton TV, yang pasti ‘kan tugas-tugas sekolahnya sudah beres,” bela Nenek.
“Siapa bilang tugasnya sudah beres kalau ditinggal Bunda pergi?” gerutuku.
“Nenek nggak ingat, waktu adik masih TK, Nenek yang mengerjakan tugas sekolahnya dengan tangan kiri agar nggak ketahuan guru?” Aku mulai mengoceh mengingatkan Nenek yang selalu memanjakan mereka.
“Itu karena dia sibuk bermain dan nggak mau mengerjakan tugas.”