Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #11

Satu Jam Saja

Jangan berakhir.

Karna esok takkan lagi.

Satu jam saja.

Hingga kurasa bahagia.

Mengakhiri segalanya.

[Audy – Satu Jam Saja]


Suara Audy perlahan terdengar, aku tidak sedang bermimpi. Segalanya gelap. Tak langsung membuka mata, aku membiarkan suaranya menggema di bawah sadarku.

[Setelah hampir satu tahun menguasai tangga lagu di sepuluh besar, akhirnya lagu Satu Jam Saja terpaksa keluar dan menempati posisi dua belas.]

Aku membuka mata pelan-pelan. Suara Jova, penyiar favoritku di salah satu frekuensi radio sedang mengudara.

“Jam berapa ini?” gumamku kembali memejamkan mata.

“Nggak biasanya Kak Jova siaran di siang hari?”

Kulirik jam dinding di kamar, sudah jam dua lebih dan aku belum salat zhuhur. Langsung saja ku melompat, bangkit dan berlari keluar kamar. Melewati ruang makan, sekilas tampak Bunda dan Nenek sedang duduk di sana. Mungkin Nenek baru keluar kamar, jadi mereka masih makan siang jam segini.

“Lily, ayo makan siang dulu,” teriak Nenek.

“Sebentar Nek, aku belum salat zhuhur, tadi ketiduran.”

“Kamu tadi sudah salat zhuhur, Lily ....”

Ucapan Bunda terdengar sambil lalu. Sepertinya aku salah dengar. Tetapi tidak terlalu kupedulikan, karena waktu zhuhur sudah mau habis.

Drap ... drap ....

Langkahku membahana memenuhi rumah tua Nenek. Aku kembali melewati ruang makan, terdengar teriakan Bunda dari dalam. Kali ini cukup jelas.

“Kamu sudah salat zhuhur tadi, Ly ...”

Aku masih berlari membalas sahutan Bunda. “Belum, Bun. Aku tadi ketiduran.”

Kubuka pintu kamar sedikit keras, mengambil mukena di rak dasar lemari baju, dan segera mengenakannya. Suara anak kecil membaca surat-surat di juz tiga puluh terdengar dari toa masjid. Tanda sebentar lagi waktu salat ashar akan datang.

“Allaahu Akbar ....”

Tubuhku bergetar sesaat doa iftitah kurapalkan.

“Bukan, ya Allaah ... Aku bukan berniat melalaikan perintahMu sebagai balasan dari cobaan yang sedang Kau kirimkan ini ...”

Batinku terus bergemuruh. Saat sujud air mata menangis deras tak terbendung.

“Maaf Ya Allaah, bukan maksud hamba untuk lalai karena rasa kecewa atas cobaan yang Kau berikan.”

Usai salam, aku tak langsung beranjak. Duduk bersimpuh, kemudian melanjutkan zikir. Tetapi airmata tak henti-hentinya mengalir. Mukena berwarna putih polos itu, perlahan basah karena air mata. Tubuhku terasa begitu lelah. Kubaringkan sejenak tepat di atas sajadah. Menutup mataku dengan lengan tangan kanan.

Lampu sama sekali belum kuhidupkan. Cahaya remang-remang yang masuk dari sela-sela jendela, entah kenapa terasa cukup menenangkan.

Tok ... tok ....

Suara ketukan menahan kesadaranku yang beranjak ingin pergi. Aku bangun, mengusap wajah beberapa kali, menghapus air mata yang membasahi pipi.

“Lily, apa kamu sudah selesai salat?” tanya Bunda dari luar kamar.

“Makan siang dulu, yuk. Ini sudah lewat jam nya lho, nanti kamu malah sakit.”

Kubuka atasan mukena, membiarkan bawahannya masih kukenakan. Kali ini merangkak menuju pintu, karena rasanya kakiku begitu lemas usai mencurahkan segala perasaanku dengan Allaah.

“Iya, Bun.”

Bunda tampak sedikit terkejut ketika pintu terbuka, dan aku sedang bersimpuh di bawah, bukannya berdiri.

“Kamu kenapa?”

Lihat selengkapnya