Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #12

Tentang Harapan

Menatap jalan yang menjauh.

Tentukan arah yang ku mau.

Tempatkan aku pada satu ... peristiwa yang membuat hati lara.

Irama lagu dari Krisdayanti dan Melly Goeslaw seakan menyambut kedatanganku, tepat pada saat aku membuka pintu kamar. Radio masih menyala dengan nyaring. Aku lupa mematikannya saat keluar kamar — atau memang sengaja tak kumatikan? Terdiam beberapa menit, mencoba menelaah apa saja yang kulakukan di kamar ini sebelum Bunda memanggil. Entah, sayangnya aku sama sekali tak dapat mengingatnya. Aku masih berdiri terpaku mendengar suara dua diva dari Indonesia itu.

Di dekat engkau aku tenang.

Sendu matamu penuh tanya.

Misteri hidup akankah menghilang dan bahagia di akhir cerita.

[Cinta – Krisdayanti Ft. Melly Goeslaw]


Beberapa tetes air mata kembali jatuh. Kalimat bahagia di akhir cerita menancap di dalam benakku. Enggan menghilang.

“Bagaimana kira-kira akhir cerita ini?”

“Apakah bahagia?”

“Atau harus merelakan?”

Menutup pintu kamar, aku masuk dengan langkah gontai menuju meja belajar. Lagu berjudul Cinta itu seakan menjadi suara latar setiap kakiku melangkah. Kutarik kursi dan duduk di sana. Kepalaku menengadah, menatap luar angkasa buatan yang kudesain sendiri sebelum menempati kamar ini hingga menyesapi lagu itu sampai usai. Aku beralih mendekati DVD Player di samping tempat tidur, dan mematikannya.

Aku kembali duduk di depan meja belajar, meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Membuka aplikasi MP3 player di sana, lalu mencari lagu berjudul Cinta. Intro lagu itu mulai mengalun pelan. Aku menarik laci meja, mengambil buku binder dengan sampul dua kelinci berhologram, dan pensil mekanik pilot biru kesayanganku. Mataku sesaat terpejam meresapi lagu yang mulai mengalun. Bayangan napas Nenek yang tidak teratur, serta suara batuknya yang tak henti, secara bergantian terlintas jelas di dalam kepala. Hanya sesaat, karena begitu terbuka, tanganku mulai bergerak menari di atas kertas putih.


Tentang Harapan

Aku mencoba memungut bulir-bulir masa yang berserakan.

Merayu Tuhan,

Agar menghujani sebutir benih asa,

Yang kutanam,

Usai kupeluk semalam dengan tangis menggigil.


Langit-langit berarak menyambut pagi.

Katanya awan menghitam,

Bersiap luruh di pelataran rumahku.

Atau daun-daun mulai gemerisik.

Bersembunyi dari angin yang mencoba mewujudkan kematian sunyi.


Pada tubuh puisi,

Kurajut angan yang sibuk menyerpih.

Berlarian di pesisir malamku.


Memohon pokok-pokok agar merindangkan raganya.

Menaungi satu kisah agar tak habis dibakar malam.


Hingga jingga,

Tak lagi bermuram.

Menanti harapan.

Lihat selengkapnya