Udara hangat langsung menyapa tepat ketika aku membuka pintu rumah. Namun tak langsung masuk, aku memilih duduk di kursi teras dan melepaskan sneakers putih dari kakiku.
“Cepat masuk, Ly. Udaranya dingin di luar,” sahut Bunda mengingatkan.
Sedikit berjingkat, aku menutup pintu rumah. Tak lupa menguncinya. Nenek dan Bunda ada di pantry, Bunda sibuk menata bungkusan makanan yang tadi dibeli untuk sarapan besok pagi.
“Jangan lupa besok untuk memanaskan sop ayamnya ya?”
“Ini, bungkusnya Bunda buka dulu, biar makanannya nggak bau. Nanti agak malam, kamu masukkan ke kulkas.”
Bunda mengeluarkan sop ayam itu, dan memasukkannya ke dalam panci. “Pastikan kalau makanannya sudah nggak panas ketika kamu memasukkannya ke dalam kulkas.”
Aku mengangguk. Mengambil wadah tupperware dari dalam lemari, dan memindahkan spaghetti yang dimasak tadi siang ke dalam wadah itu.
“Kenapa kamu tadi makannya kok cuma sedikit, Ly?” tanya Nenek yang sedang duduk mengamati kami berdua.
“Padahal kamu semangat sekali waktu Bunda mengajak kita untuk makan malam di luar.”
“Apa kamu nggak cocok dengan restoran yang kami pilih?”
“Tentu saja, nggak ...” jawabku cepat.
“Ayam goreng Jakarta ‘kan termasuk makanan favoritku. Aku sering merengek minta Bunda pergi ke pasar atom, ketika weekend hanya untuk makan itu.”
“Terus kenapa kamu nggak menghabiskan makananmu?” Nenek tampak begitu heran — atau khawatir?
“Mungkin karena aku baru makan siang hampir jam tiga sore tadi, jadi rasanya masih kenyang.”
Nenek menatapku dengan pandangan tak percaya.
“Tadi siang kamu juga makan spaghettinya hanya sedikit.”
Aku tidak lapar — entahlah. Rasanya perutku terasa penuh. Padahal jelas-jelas sejak siang tadi, tak ada banyak makanan yang benar-benar masuk ke dalam perutku.
“Kamu mau minum air hangat?”
Nenek menawarkan seraya berdiri membawa gelasku ke arah dispenser.
“Apa sebaiknya Bunda menginap di sini saja malam ini?”
“Sepertinya kamu kurang enak badan.”
“Bunda takut penyakit maagmu tiba-tiba kambuh tengah malam, dan harus segera dibawa ke IGD seperti biasanya.”
Bayangan rumah dan adik-adikku yang selalu berisik sebelum berangkat sekolah seketika terlintas.
“Jangan, Bun,” tolakku datar tanpa tenaga.
“Kasihan adik-adik kalau Bunda tinggal di sini.”
“Bukankah besok aku dan Nenek akan mulai tinggal di rumah Bunda?”
Aku mengingatkan.
“Besok, akan kubereskan semua barang Nenek, agar bisa dibawa pindah saat itu juga. Tetapi lebih baik Bunda menjemput kami di malam hari aja.”
Bunda bersedekap. “Kamu nggak harus menyelesaikan membereskan barang-barang itu besok kok, Ly. Kita bisa menyicilnya.”
“Iya, aku mengerti.”
Tidak ada lagi paksaan. Bunda hanya mengangguk kecil, lalu kembali membereskan dapur. Namun aku bisa merasakan — atau mungkin hanya perasaanku saja — geraknya sedikit lebih pelan dari biasanya. Tidak seperti Bunda yang selalu lincah dan gesit setiap melakukan sesuatu.
“Wajahmu terlihat pucat,” bisik Nenek masih dengan tatapan lurus padaku. Dia memperhatikan setiap detil diriku.
“Apa kepalamu pusing?”
Aku mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi kamera dan memotret wajahku.
“Nggak, aku nggak terlihat pucat,” jawabku ringan setelah melihat hasil foto delapan mega pixel itu.
“Kamu memotret hanya untuk melihat wajahmu? Kenapa nggak langsung bercermin saja?”
Tanganku menunjuk mengitari ruangan. “Nggak ada cermin di sini, Bun,” jawabku acuh.
Kami bertiga terdiam, walaupun tangan masing-masing sibuk membereskan makanan yang baru saja kami beli itu. Suara paling keras justru berasal dari jam dinding tua yang tergantung menempel di dinding bagian atas kamar Nenek.
Benar. Jam itu terletak di kamar Nenek, tetapi suaranya sampai membahana di seluruh sudut rumah ini.
Kuteguk habis segelas air hangat pemberian Nenek.