Diing ... diing ....
Lagi-lagi aku terbangun oleh suara jam tua yang terus menggema itu. Masih dalam posisi duduk, sedang kepala kuletakkan di atas meja. Tanganku meraba seluruh meja, hampir menjatuhkan barang-barang yang tergeletak di sana. Berhenti ketika berhasil menemukan ponsel. Mataku menyipit menyadari lampu kamar masih menyala terang.
“Ah, aku belum ganti baju.”
“Sebaiknya sekarang aku bergegas mengganti baju, dan menemani Nenek tidur di kamarnya.
Kedua tangan ke atas, merenggangkan badan yang terasa begitu kaku. Efek posisi tidurku yang salah. Aku membuka tombol kunci hingga ponsel menyala kembali. Mataku terbelalak melihat angka yang tertera di sana.
“Jam tujuh pagi?”
Drrt ... drrt ....
Ponsel di tangan tiba-tiba bergetar. Nama Mia tertera di layarnya.
“Assalamualaikum,” sapaku usai menekan tombol telepon berwarna hijau.
[Wa’alaikumsalam, apa kamu nggak pergi ke kampus hari ini? Aku sepertinya melihat pak Dayat datang.]
Aku heran dengannya. Wisuda tinggal menunggu waktu, tak ada lagi yang harus diurus berkaitan dengan kampus. Tetapi dia masih begitu rajin bolak-balik kampus layaknya mahasiswa baru.
“Sepertinya hari ini aku nggak pergi ke kampus,” putusku tanpa rasa bimbang.
Rasanya enggan memikirkannya lebih lama. Usai berharap malam panjang, yang pastinya tidak terkabul, rasa penyesalan langsung menyergap menyadari aku malah tertidur di kamarku, bukan di kamar Nenek.
“Kenapa kamu datang ke kampus pagi ini?”
Tak langsung menjawab, tetapi latar suara di seberang sana terdengar begitu berisik.
[Entah, aku berniat mengikuti kelas Akuntansi Keuangan Lanjutan pagi ini. Daripada menghabiskan waktu yang nggak jelas di kos.]
[Sebenarnya aku kepikiran untuk ke warnet mencari informasi lowongan pekerjaan. Kalau bisa sekaligus mendaftar. Toh surat keterangan lulusku sudah keluar.]
Seperti biasa dia langsung mengoceh panjang lebar hanya untuk menjawab satu atau dua pertanyaan singkat.
[Kamu nggak berniat ke warnet mencari referensi jurnal yang cocok untuk skripsimu?]
“Nggak, aku masih ada keperluan hari ini. Dan sepertinya memakan waktu yang lama.”
[Baiklah, kalau begitu sudah dulu ya, sepertinya aku akan mengikuti kelas saja pagi ini. Assalamualaikum.]
“Wa’alaikumsalam.”
Percakapan singkat itu benar-benar berakhir. Aku beranjak mematikan lampu dan membuka tirai jendela. Cahaya pagi masuk langsung tanpa filter, tidak terhalang tirai, maupun sudut gelap.
“Nggak biasanya pintu garasi terbuka lebar?”
Rasa heran menyergap. Lampu di luar kamar sudah mati, tetapi cahaya yang mengisi rumah hingga sampai ke kamarku begitu terang. Pandanganku menyusuri arah cahaya yang masuk itu. Aneh, tak ada bayangan di lantai, dinding, atau meja — semua tampak rata.
Aku berlari keluar kamar memastikan keadaan Nenek.
“Nek,” panggilku seraya membuka pintu kamar.
Kosong. Aku menatap kamar mandi di seberang sana yang pintunya terbuka, tidak ada juga.
“Nek ....”
Sedikit kukeraskan suara, mungkin Nenek berada di dapur dan tidak mendengar karena suasana yang berisik di sana.
“Nenek lagi memanaskan sop ayam?” tanyaku ketika masuk ke dapur.
Api kompor sudah padam, namun panci itu tampak masih mengeluarkan asap.
“Sepertinya Nenek tadi ada di sini. Lalu sekarang kemana?”
Jantung mulai memukul-mukul sedikit lebih cepat. Tentunya diiringi pikiran buruk yang mulai mengakar.
“Apa Nenek pingsan dan aku melewatkannya?”
Aku berbalik, berlari kembali ke kamar Nenek. Selimut sudah terlipat rapi, bantal dan guling juga tertata seakan belum disentuh. Segala penjuru kamar kutelusuri, Nenek benar-benar tidak ada di sini. Aku berniat menuju pantry, namun sayup-sayup terdengar suara air mengalir dari depan rumah.
“Teras?”
“Apa Nenek sedang berada di teras?”
Kali ini aku tidak lagi berlari. Mencoba menetralkan raut wajah, aku melangkah hati-hati melewati ruang tamu menuju teras. Suara air mengalir terdengar semakin keras. Tepat di ambang pintu yang memisahkan ruang tamu dan teras, aku berhenti.
Sosok yang kucari sedang sibuk menyiram tanaman-tanaman kesayangannya yang diletakkan di pot-pot besar berjajar. Wajahnya tampak bersinar, efek dari pantulan cahaya matahari yang menerobos dari sela-sela pagar.
“Nenek sudah sarapan?”
Tubuhnya tampak sedikit bergetar mendengar suaraku. Aku sedikit menyesali perbuatanku yang membuatnya terkejut.
“Nenek nggak apa-apa?”