Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #15

Mendekap Afeksi di Ranting Senja

Mata Nenek perlahan berkaca-kaca. Jantungku mulai berdebar.

“Tulisanmu terlalu kecil, Lily. Nenek harus ambil kacamata dulu ....”

Ucapan Nenek membuat perasaanku jatuh seketika. Bibirku mengerucut, usai bom yang salah meledak pada waktunya.

“Ih, Nenek. Aku sudah terlanjur antusias.” Pekik yang ingin terlontar seketika kutahan.

“Kepalaku sudah membesar, karena kupikir mata Nenek berkaca-kaca akibat membaca puisiku. Tetapi ternyata Nenek ingin menangis karena nggak bisa membca puisiku.”

Suara tawa terpingkal-pingkal seketika terdengar nyaring. Aku terus mengamati setiap jengkal raut wajah Nenek. Jarang sekali Nenek tertawa begitu lepas.

Nenek terkikik usil. “Ayo ... ayo kita baca suratmu, sambil sarapan ya, Nenek takut kalau sop ayamnya sudah dingin lagi.”

"Ya sudah, kalau dingin, aku panaskan lagi, Nek."

Nenek berbelok masuk ke kamarnya. Langkahnya terlihat begitu bersemangat. Apa karena puisiku? Atau ada hal lain yang membuat Nenek bahagia saat ini? Tanaman-tanaman itu kah?

Pandanganku beralih pada tanaman yang berjejer di teras. Tak ada yang berbeda dari biasanya. Mengedikkan bahu, kulanjutkan berjalan sedikit lurus menuju ruang makan.

“Oh iya, sop ayamnya masih ada di atas kompor.” Refleks aku menepuk kening cukup keras.

"Kalau dilihat dari waktunya, aku yakin sop ayam itu sudah dingin sekarang."

Masih dengan berbagai pikiran, aku keluar dari ruang makan menuju dapur.

"Hmm, jadi itu artinya ...."

Suara Nenek terdengar sayup-sayup dari dalam kamar. Pintu itu terbuka.

"Nenek sepertinya sedang bicara sendiri, mungkin menilai usai membaca puisi itu."

Aku mengabaikan keinginanku untuk masuk.

"Lebih baik aku segera menghangatkan sop ayam, agar waktu sarapan Nenek nggak terlalu siang."

Lampu dapur belum menyala, karena letaknya yg cukup dalam di rumah sehingga cahaya tidak dapat masuk sama sekali.

Aku meraba dinding, tempat saklar lampu yang aku hapal betul menempel.

Mendekati panci berisi sop ayam di atas kompor, lalu kunyalakan. Api biru muncul dalam sekejap, perlahan membesar namun enggan membakar ketenangan pagi ini.

Pandanganku terpaku menatap api itu, tetapi pikiranku tentu saja tak ada di sini.

"Nek ...."

Sebuah panggilan singkat memutuskan lamunanku. Aku menatap ke arah luar dapur.

"Apa Nenek memanggilku?"

Kutajamkan pendengaran, tak ada panggilan susulan. Mungkin aku salah dengar.

Kuah di dalam panci tampak mulai bergolak. Bulatan-bulatan kecil bermunculan. Rasa asing meraba, tubuhku mulai bergidik.

"Ah, aku benci perasaan ini."

Trypophobia. Entah sejak kapan aku mengidapnya. Sesaat kupejamkan mata menanti sop itu benar-benar panas, tidak lagi sekedar hangat.

“Lily, kamu ingin sarapan dengan nasi atau lontong?” teriak Nenek, sepertinya dia ada di dalam pantry.

“Lontong aja, Nek!”

Gelembung sudah benar-benar menguasai permukaan kuah. Aku mematikan kompor, membiarkan gelembung itu menghilang pelan-pelan, kemudian membawa panci itu ke ruang makan.

Nenek sudah duduk dengan nyaman di sana. Sibuk memandangi selembar kertas berisi tulisanku itu.

“Kamu benar-benar nggak ingin tahu, bagaimana Nenek mengartikan puisimu ini?” tanya Nenek sesaat aku meletakkan panci panas itu di atas meja.

Aku terdiam mendengar kalimat Nenek, namun memutuskan untuk mengabaikannya.

“Dan kamu juga nggak mau memberitahukan apa makna puisimu ini pada Nenek?”

Kutarik kursi tepat di sebelah Nenek, dan duduk di sana.

Lihat selengkapnya