“Lily ...”
Aku masih berdiri di jalan menuju lemari, setelah bangkit dari kursi dekat meja belajar. Sedikit merasa asing dengan pikiran-pikiran yang baru saja terlintas.
Suara Nenek mengembalikan kesadaranku ke dunia nyata. “Kamu mau makan siang dengan apa?”
Tubuh Nenek masih di balik pintu yang sedikit terbuka, sedangkan kepala menyelinguk masuk ke kamarku. Wajahnya tampak cerah, mungkin karena pagi tadi sudah menghabiskan waktu dengan tanamannya. Hal yang sangat Nenek sukai.
“Bukankah kita baru saja sarapan?” tanyaku dengan heran.
“Memangnya sekarang sudah jam berapa, Nek?”
Nenek tersenyum, membuka pintu kamar lebih lebar dan masuk ke dalam.
“Sudah jam sebelas, Lily ...”
“Sudah dua jam dari kita menyelesaikan sarapan.”
Tangan Nenek bersedekap, keningnya mengerut dalam. Menambah kerutan-kerutan lain, selain kerutan yang sudah tergores di wajahnya. “Jangan-jangan kamu belum melakukan apapun.”
Iya, aku merasa baru lima menit berada di kamar dan menimbang apa yang sebaiknya kulakukan untuk skripsiku.
"Apa kamu mau makan tongkol rica-rica?" tawar Nenek ketika aku kembali melamun. Kepalaku tiba-tiba kosong, seakan memikirkan pertanyaan Nenek, namun nyatanya tidak.
"Nenek ingat kemarin sempat diajak tetangga ke pasar, ada tongkol putih yang bagus, jadi Nenek membelinya."
"Bagaimana kalau kita makan itu aja?"
Aku mengangguk antusias. Tentu saja karena itu adalah salah satu makanan favoritku. Nenek hapal betul semua kesukaanku, seakan aku adalah satu-satunya cucu yang dimilikinya.
Tanpa pikir panjang kutinggalkan segala hal yang sedari tadi kuributkan. Laptop, flashdisk, ponsel, bahkan buku-buku yang sempat terlintas untuk kurapikan.
Aku mengatur kecepatan agar tetap melangkah di belakang Nenek.
Langkah Nenek berhenti sebentar. "Nenek bisa memasaknya sendiri, kamu lanjutkan saja kegiatanmu di kamar," usulnya.
"Nenek lihat laptopmu sudah siap di atas meja belajar, kamu pasti berniat mengerjakan skripsimu, 'kan?"
"Kerjakan sekarang, jangan ditunda lagi."
Aku menggeleng yakin. "Masih banyak waktu untuk menyelesaikan skripsi itu, Nek," bujukku beralasan.
"Tetapi untuk membantu Nenek menyiapkan makan siang sekarang, nggak bisa ditunda. Sebentar lagi sudah jam dua belas siang."
“Nenek bisa sendiri, nggak butuh bantuanmu,” gumam Nenek, namun aku sama sekali tak mengindahkannya.
Sinar matahari menerobos dari celah jendela, memantul di lantai keramik. Aku hanya melewatinya. Tak terlalu memikirkannya lebih banyak.
Kembali masuk ke dalam dapur yang gelap. Nenek langsung masuk tanpa menyalakan lampunya, sedangkan aku melangkah perlahan, meraba-raba dinding mencari letak saklar lampu, kemudian menghidupkannya.
"Kenapa nggak dinyalakan lampunya, Nek?"
"Apa Nenek bisa melihat dengan cahaya yang minim seperti itu?"
Aku mendekati lemari es, mengambil lombok, tomat, dan tongkol yang tersimpan di sana.
Nenek sudah berada di dekat kompor. Di hadapannya ada cobek beserta ulekannya. Terasi, garam, dan gula sudah keluar dari rak dan berjejer rapi. Begitu juga dengan bawang merah dan bawang putih.
"Biar aku saja yang mengulek, Nek."
Aku menawarkan diri, mengingat tangan Nenek sudah nggak kuat melakukannya.