Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #17

Segala Teratur

Entah sudah berapa lama aku berkutat dengan buku tebal ini, tetapi tak satu pun teori yang kubaca sesuai dengan topik skripsi milikku. Kututup halaman buku itu dengan sedikit kasar, karena rasa bosan yang semakin menguasai.

Drrt ... drrt ....

Beruntung ponsel itu bergetar ketika aku berada di dalam kamar. Tentu saja nama Mia yang tertera di sana, karena yang sering menghubungiku hanya Mia dan Bunda. Aku memang bukanlah orang penting yang selalu dicari-cari banyak orang.

[Aku sedang di warnet, kalau-kalau kamu butuh sesuatu.]

Di seberang sana suasananya begitu berisik, namun suara Mia masih begitu jelas terdengar. Nadanya begitu santai, seakan menikmati hiruk pikuk di belakang layarnya. Sesaat rasa semangat menghampiriku.

“Ah, apa kamu mau mengunduhkan data laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan asuransi dua tahun terakhir?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Hmm, itu pun kalau kamu nggak repot sih ....”

Kalimatku sebelumnya langsung kuperjelas, takut Mia merasa keberatan dengan permintaanku.

[Santai aja. Aku akan mengunduh laporan keuangan itu, dan mengirimkannya padamu melalui pesan.]

“Oke, terimakasih.”

By the way, sudah berapa surat lamaran yang kamu kirimkan hari ini?”

Mia hanya menggumam. Aku membayangkan dia membuka kotak keluar pada emailnya, dan menghitung emai-email yang sudah dia kirimkan hari ini.

[Ada ... enam ....]

Suaranya terdengar ragu, sayangnya saat ini aku tidak bisa melihat raut wajahnya secara langsung.

“Kenapa?” tanyaku ingin tahu.

[Entahlah, aku lagi bosan aja. Sudah puluhan surat lamaran yang kukirim, tetapi belum ada satu pun balasan.]

Aku terdiam. Betapa jalan hidup memang tak pernah sesuai rencana. Secara logika, Mia dengan IPK tiga koma tujuh puluh tiga, pasti ratusan perusahaan berlomba-lomba untuk memberinya pekerjaan. Nyatanya setelah hampir lima bulan dari kelulusannya, tak ada satu pun perusahaan yang memanggilnya.

“Aku ... nggak punya kata-kata lain yang bisa kuucapkan selain sabar,” kataku lirih dan penuh keraguan.

[Santai ....]

Nada suaranya seketika berubah.

[Toh, aku baru belum dapat panggilan kerja selama beberapa bulan, bukan beberapa tahun.]

Rasa lega ikut menghampiri mendengar semangatnya.

[Apa kamu nggak ada niat ke kampus beberapa hari ke depan?]

Sudut bibirku sedikit terangkat, rasa usil langsung menyergap.

“Kenapa?” tanyaku berusaha mengeluarkan nada datar.

“Apa kamu sudah kangen hanya karena satu hari nggak bertemu?”

[Huueek...]

Suara seperti seseorang yang sedang muntah terdengar di seberang sana. Aku menahan senyum mendengar tanggapannya atas gurauanku.

[Justru sebaliknya. Aku merasa sangat bahagia karena nggak bertemu denganmu.]

[Hmm Ly, sepertinya telepon ini harus segera diakhiri, karena paketanku sudah mau habis.]

“Oke.”

Tanpa berdebat aku langsung menyetujui permintaannya. Sambungan terputus hanya dalam hitungan detik.

Laptop masih terbuka dan menyala di atas meja. Namun bukannya meneruskan kegiatanku mengerjakan skripsi, aku beranjak dari kursi mendekati tempat tidur empuk di seberang meja belajar.

“Wah ... akhirnya aku bisa meluruskan punggungku!” pekikku tak tertahan.

Lihat selengkapnya