Keningku semakin berdenyut. Lama-lama bahkan aku sendiri tak bisa menopang kepalaku lagi rasanya.
“Apa sebaiknya aku minum paracetamol untuk meredakan nyeri?”
Kuletakkan kepala di atas meja. Memejamkan mata sejenak, setengah berpikir. Satu ide terlintas, kebiasaanku kalau sakit kepala menyerang. Paracetamol dan antisida seakan camilan rutin yang harus ada stoknya di dalam laci maupun di tas ranselku.
“Tetapi saat ini aku tak ingin tidur lagi,” gumamku.
Perasaan aneh menggeluti. Aku memandang sekeliling kamar, semuanya terasa begitu sunyi. Bahkan jam dinding yang biasanya suara detiknya menghiasi seluruh rumah. Kali ini hening. Diam tak berkutik. Apa dia akhirnya benar-benar terdiam, seperti jarum jam dan menit yang terus terdiam menunjukkan waktu dua tepat.
“Lebih baik kuteruskan saja menyortir file-file ini ke dalam excel,” putusku.
Kubuka salah satu file dengan judul perbankan. Padahal sudah ada seratus data di sana, namun hasilnya tidak sesuai dengan hipotesis. Dengan sabar kumasukkan satu per satu data laporan arus kas perusahaan asuransi untuk dua tahun terakhir. Sama halnya seperti perbankan, aku juga memasukkan masing-masing nilai dari laporan arus kas operasional, investasi dan pendanaan, bahkan total arus kas.
Terus saja memaksakan diri menyelesaikan data-data itu, bahkan menahan rasa ingin istirahat sebentar, nyatanya semakin membuat kepala semakin sakit.
“Mungkin sebaiknya aku benar-benar minum paracetamol, agar bisa melanjutkan mengerjakan skripsi ini,” putusku.
Aku berdiri dari tempat duduk, baru beberapa langkah kembali dan menggeser kursi itu masuk ke dalam meja agar terlihat rapi. Lalu kuraih tas ransel yang tergantung di belakang pintu, mengambil obat berwarna biru putih di sana.
“Ah, aku nggak membawa gelas minum ke dalam kamar.”
Sedikit merutuki kebiasaanku yang jarang minum air putih. Membuka pintu kamar sedikit keras. Namun suasana di luar kamar terasa begitu kontras. Tak ada angin menyapa, bahkan udara terasa begitu minim.
“Apa sesakku kambuh, kelanjutan dari sakitnya kepala?”
“Sepertinya aku harus segera minum obat.”
Pintu kamar kututup rapat. Aku menatap suasana yang menyapa. Rumah Nenek benar-benar terasa sepi. Hanya tinggal kami berdua di sini, belum lagi sibuk di kamar masing-masing, menambah nuansa tak berpenghuni di rumah ini. Aku masuk ke pantry yang hanya disinari cahaya remang-remang dari sinar matahari. Mengambil gelas air minum milikku. Namun baru mengangkatnya, aku kembali terpaku.
“Kenapa gelas ini berisi air hangat?”
“Seingatku aku sudah menghabiskan isi gelas ini usai makan siang tadi. Bahkan aku mengisinya dengan air putih biasa, bukan air hangat.”
Walaupun tak menemukan jawaban, aku memutuskan meminum obat bersama air hangat di dalam gelas itu. Perutku tiba-tiba berbunyi. Rasa lapar kembali menyergap, padahal baru beberapa saat yang lalu aku makan siang dengan Nenek.
“Bukankah ada oentbijkoek di dalam oven?”
“Seharusnya aku mengisi perut dulu sebelum minum obat.”
Sedikit menyesali apa yang sudah kulakukan. Aku langsung melangkah mendekati oven. Oentbijkoek itu masih di atas nampan, namun sudah tidak utuh.
“Alhamdulillaah kalau Nenek sempat mengemil, Nenek ‘kan kalau makan porsinya sedikit sekali.”
Aku memotong kecil roti itu, kemudian menyuapkannya ke dalam mulut.”
“Bagaimana rasanya?” tanya Nenek yang entah mulai kapan berada di pantry.
“Enak?”
“Masakan Nenek mana ada yang gagal ....” pujiku.
“Tetapi aku senang Nenek sudah mulai mengemil, apa Nenek nggak mau makan lagi?”
Nenek menggeleng. “Nenek masih sangat kenyang usai makan siang tadi, perut Nenek masih terasa begitu penuh.”
Kalimat Nenek sedikit ... ambigu. Tetapi fokusku kembali mengunyah roti kesukaanku itu.
“Kamu sakit, Lily?” tanya Nenek ketika melihat bungkus obat sakit kepala di atas meja makan.
“Oh ... eh ... cuma pusing sedikit kok, Nek,” jawabku tergagap. Tak ingin Nenek khawatir dengan keadaanku.
“Apa masih banyak yang harus dibereskan, Nek?”
“Aku bisa membantunya.”