Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #19

Tanpa Aku

Itu aku.

‘Ada apa ini?’

‘Apa yang sedang terjadi?

Lily lain muncul dengan kemeja merah bermotif garis dan rok jeans. Tak lupa tas ransel merah di punggung, serta jaket berwarna yang sama disampirkan di pundak. Semua yang dikenakannya sama sekali tidak asing. Semua itu milikku.

“Nek, dia siapa?”

Tetapi Nenek tidak bergeming dengan pertanyaanku. Nenek tak mendengarnya.

“Ini bekalnya dibawa dan jangan lupa dicemil nanti di kampus.”

Nenek membuka tas ransel merah milik ‘Lily’ lain, dan memasukkan bekal itu ke dalamnya.

“Iya deh, nanti aku makan setelah bertemu dengan pak Dayat.”

“Nek bukankah itu Nenek buatkan untukku?”

Aku mencoba meraih tangan Nenek untuk menahannya meletakkan bekal itu di dalam tas. Namun gagal. Tanganku menembus tas merah itu.

‘Lily’ menyodorkan tangannya, meminta untuk mencium tangan Nenek. Refleks Nenek langsung mengulurkan tangannya. Cium tangan yang mungkin hanya setengah detik itu, semakin terasa singkat di mataku.

Aku mendekat berdiri di tengah mereka. Bahkan tubuhku menembus kedua tangan mereka.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Nek,” panggilku lebih mendekati wajah Nenek.

“Apa Nenek nggak bisa mendengarku?”

“Aku di depan Nenek sekarang, apa Nenek nggak bisa melihatku?”

Gagal. Nenek sama sekali tidak bergeming. Pandanganku beralih pada sosok ‘Lily’ yang sebelumnya kupunggungi.

“Siapa sebenarnya dia?”

“Kenapa semua milikku ada padanya?”

Usai mencium tangan Nenek, tak langsung berangkat, ‘Lily’ mengambil ponsel di tasnya dan suara tombol ditekan beberapa kali berbunyi. Nada sambung menyusul kemudian.

“Kamu menelepon dosenmu?” tanya Nenek ketika panggilan itu tak juga diangkat.

“Kenapa nggak langsung berangkat sekarang, dan menghubunginya di kampus sekalian menunggunya?”

‘Lily’ hanya tersenyum, pikirannya berfokus pada panggilan yang belum juga dijawab.

“Lily ...” panggil Nenek.

“Aku di sini, Nek!” jawabku cepat setengah berteriak. Tetapi Nenek tak bergeming, beliau sama sekali tidak mendengar suaraku.

“Lily, ayo segera berangkat. Siapa sebenarnya yang kamu telepon?”

‘Lily’ menjauhkah ponsel dari telinganya, pandangannya tampak sayu sesekali menatap ponsel itu.

“Bunda,” jawabnya begitu lirih.

“Bunda?” ulang Nenek menegaskan pendengarannya.

“Kenapa?”

“Bunda katanya mau datang ke sini, mungkin aku bisa menunggu sampai Bunda datang,” jelas Lily dengan nada berharap.

“Kalau menunggu Bundamu datang, bisa-bisa kamu sampai di kampus terlalu malam,” tolak Nenek.

“Terus dosenmu hanya punya waktu sedikit bahkan sudah nggak ada di tempat.”

“Bukankah itu lebih mengacaukan situasi?”

“Kamu nggak nyaman karena harus menunggu Bundamu, ditambah lagi perasaan ketika bertemu dosenmu yang sudah menunggu lama.”

Nenek memegang kedua bahu ‘Lily’. “Kamu nggak perlu khawatir Nenek sendirian di sini.”

Aku mematung. Ragaku berdiri tegak di dekat Nenek, bahkan aroma minyak kayu putih di baju Nenek masih terhirup dengan jelas. Namun bayanganku pun tak kasat di mata Nenek.

‘Lily’ tampak menarik napas panjang. Tatapannya begitu berat membuat keputusan.

“Baiklah, tetapi Nenek jangan keluar rumah, ya ....” pinta Lily dengan nada begitu berat.

“Sejak kapan Nenek suka keluar rumah?” canda Nenek.

“Kalau istilah anak zaman sekarang, Nenek ini orangnya terlalu ‘mager’ untuk sekedar melangkah beberapa sentimeter dari rumah.”

Iya, aku tahu itu. Walaupun Nenek memiliki sifat ekstrovert, berbanding terbalik denganku yang introvert, tetapi Nenek terlalu malas untuk sekedar jalan-jalan keluar rumah.

Lihat selengkapnya