Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #20

Enam Belas April

Sosok Nenek sudah menghilang masuk kembali ke dalam rumah, sedangkan aku masih terpaku di teras. Menatap sepeda motor berwarna biru yang terus pergi menjauh hingga hilang dari pandanganku.

Angin pelan berhembus mencoba mendinginkan perasaanku.

“Dia benar-benar pergi ....” bisikku.

“Aku benar-benar pergi.”

Tak lagi berdiam diri, aku melangkah dengan lunglai masuk ke dalam rumah. Kuseret kaki yang terasa begitu berat.

“Nek!” panggilku sedikit keras, walaupun kutahu hasilnya sia-sia. Nenek tidak akan bisa mendengar suaraku.

Jantungku berdebar, tubuhku turut bergetar hebat. Suasana benar-benar hening. Sepeda motor itu tak lagi ada di tempatnya, namun suaranya masih menggema di mana-mana seakan menghatui setiap langkahku.

“Kenapa ‘Lily’ harus tetap pergi di saat Nenek masih sendirian di rumah?” rutukku.

“Apa aku mencoba menghubungi Bunda? Mencari tahu sudah sampai mana Bunda sekarang?”

“Atau jam berapa kira-kira Bunda sampai di sini?”

“Tetapi bagaimana caranya?”

Segala hal yang mungkin bisa kulakukan, nyatanya mengalami kebuntuan. Pandanganku masih mengelilingi setiap sudut rumah, mencari sosok rapuh yang entah kenapa rasanya begitu kukhawatirkan hari ini.

“Mungkin Nenek ada di kamarnya.”

Aku berlari. Bukan lagi berjalan cepat ataupun melangkah lambat, mencari keberadaan Nenek. Pintu kamar Nenek terbuka lebar, namun sosok Nenek tak ada di sana. Tak cukup berhenti di sana. Aku melangkah masuk ke dalam kamar Nenek, mungkin Nenek sedang membungkuk atau duduk di lantai hingga tak terlihat karena tertutup tempat tidur. Sayangnya segala kemungkinan itu hasilnya nihil.

Sekilas kutatap laci di meja rias. Laci itu masih terbuka, sama persis ketika Nenek mengambil uang dari dalam amplop untuk diserahkan padaku. Bahkan amplop putih yang tadi diambil Nenek, tergeletak, tampak lusuh dan jauh dari kata rapi.

“Nek!” teriakku seraya keluar kamar dan masuk ke dalam pantry yang berada tepat di sebelah kamar Nenek. Ruangan itu begitu gelap. Lagi-lagi hasilnya sama.

Keluar dari pantry, kulirik kamar mandi di sebelah seberang kanan. Pintu itu terbuka dan lampunya padam. Jelas tidak mungkin Nenek berada di sana. Aku menajamkan pendengaran. Namun rasanya begitu sunyi, hanya detak jam yang tiba-tiba kembali terdengar jelas.

Azan maghrib tadi sudah berkumandang sebelum ‘Lily’ akhirnya pergi, namun cahaya matahari yang masuk ke rumah layaknya senja yang menunggu waktu terbenam. Bukannya gelap.

“Nek!”

“Nenek!”

Kali ini suaraku menggema, berbalapan dengan detak jam yang terdengar semakin keras dan cepat. Aku sudah hampir luruh. Sebuah kalender duduk yang berdampingan di sebelah telepon menarik perhatianku.

“Sejak kapan benda ini ada di sini?”

Perhatianku teralihkan seketika. Aku melangkah mendekat mengambil kalender duduk polos, tak ada foto atau gambar apapun di sana. Hanya ada angka-angka. Tanggal enam belas april dilingkari di sana.

“Apa ini tanggal yang penting hingga Nenek menandainya?” gumamku sedikit heran.

Aku membalik halaman itu untuk melihat halaman berikutnya. Namun tak ada lagi. Begitu juga halaman sebelumnya. Hanya ada satu lembar di sana, dan itu pun bulan april. Kalender itu benar-benar bersih, tanpa tekukan atau coretan apapun. Hanya ada satu lingkaran hitam di tanggal enam belas, namun tak ada keterangan apapun di sana.

Langkah sandal sedikit membuatku waspada. Kuletakkan kembali kalender duduk itu ke tempatnya, lalu berbalik ke arah sumber suara. Dari arah dapur Nenek keluar dengan membawa panci berasap. Rasa lega perlahan memenuhi dadaku yang sempat sesak akibat debaran jantung yang tak normal.

“Apa yang Nenek masak?” tanyaku.

“Apa Nenek mau makan malam sekarang?”

Aku terus mendekati Nenek, namun lagi-lagi Nenek sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Terus berjalan melewatiku kemudian masuk ke dalam pantry. Diletakkannya panci berasap itu di atas meja makan, tepat di atas alas besi agar tak langsung menyentuh plastik yang menutupi taplak meja.

“Sebaiknya kupanggil Lily sebelum tongkol rica-rica ini dingin,” gumam Nenek.

“Bukankah lebih enak kalau dimakan ketika masih hangat.”

Napasku tercekat. Aku melangkah cepat mendekati Nenek. 

“Bukankah ini menu makan siang tadi?”

Lihat selengkapnya