Enam belas April.
Aku masih menggumamkan tanggal itu. Kepalaku begitu berisik, hingga tanpa kusadari sekelilingku begitu sunyi.
"Nenek nggak ada."
"Nenek menghilang."
Satu hal tiba-tiba kusadari. "Bunyi detak jam dinding itu juga menghilang!"
Aku berlari keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar Nenek. Sosoknya tak ada di sana. Melihat setiap penjuru kamar, barangkali ada yang terlewatkan. Bahkan aku membuka lemari tua tempat menyimpan pakaian milik Nenek. Tentu saja hasilnya nihil. Bukannya langsung keluar kembali mencari Nenek, pandanganku terpaku pada jam yang masih bertengger di dinding.
Kali ini aku terdiam mengamatinya dalam-dalam, bukan hanya sekedar lewat atau melirik sekilas seperti biasanya.
"Jam itu masih menunjuk pukul dua. Tetapi kali ini segalanya mati," gumamku.
"Jarum jam nggak bergerak, jarum menit masih terdiam di tempat yang sama, serta jarum detik yang bungkam."
“Tak ada suara.”
“Tak ada denting.”
“Hanya warna putih yang entah kenapa mengusik pikiranku.”
Aku mengerjap beberapa kali menatap jam dinding yang membungkam itu.
“Suara detik yang biasanya terdengar keras dan mengganggu itu, kali ini lenyap ditelan sunyi.”
“Apa dia sudah benar-benar mati?”
Aku melangkah mundur, tanpa mengalihkan pandangan darinya. Berharap jam dinding itu bergerak sedikit, dan aku menyadarinya.
Tetapi tak ada yang terjadi.
Benda itu masih diam, seakan menatapku tanpa kusadar dan mengolokku yang tak punya kuasa mengaturnya. Namun itu sama sekali tak menyurutkan rasa penasaranku. Aku masih menatapnya lurus seakan menantangnya.
Udara dingin merambat semakin menusuk. Aku mencari sumbernya, tetapi semua jendela tertutup. Kipas angin maupun Air Conditioner, tak ada satupun yang menyala. Bahkan ruangan begitu terang, seakan cahaya matahari masuk dari segala arah.
Tengkuk dan lenganku mulai meremang. Daerah di sekitar jam perlahan berubah putih. Aku menatap sekeliling. Lemari tua Nenek, tempat tidur, meja rias, kursi, semua barang di kamar Nenek satu per satu mulai menghilang. Entah sejak kapan.
"Dimana aku?"
"Ini bukan rumah Nenek."
Ding ... ding ....
Denting itu kembali terdengar. Merambat perlahan di telingaku. Sekelilingku kosong. Hanya ada jam dinding putih yang masih terdiam menempel di dinding, seakan mengamatiku tanpa suara. Dia bukan lagi jam dinding tua yang tampak lusuh. Dia begitu bersinar di tengah ruangan kosong ini, dan ... putih.
Segalanya berubah menjadi putih. Aku mendekati jam itu perlahan. Entah kenapa dia sudah tidak berada di tempat yang tinggi seperti biasanya. Namun aku tetap tak bisa menjangkaunya dengan mudah.
“Lagi-lagi jam dua pagi ....”
“Kenapa harus jam dua pagi?”
Aku berlari keluar ruangan yang seharusnya adalah kamar Nenek. Menatap sekeliling. Bukan lagi pantry yang ada di sampingnya. Kamar mandi dan dapur pun turut menghilang entah kemana. Tak ada meja, kursi, bahkan tangga yang melingkar seperti sebelumnya.
“Aku nggak pergi kemana-mana,” bisikku.
“Aku masih berada di rumah Nenek, ‘kan?”
Kucubit kedua lengan bergantian, menampar pipi kanan dan kiri. Rasa sakit seketika terasa.
Brrm ....
Suara knalpot sepeda motor kembali terdengar. Sunyi itu akhirnya pecah dengan suara knalpot yang begitu gaduh. Bukannya merasa terganggu, aku justru sedikit lega mendengar suara yang nyaris cempreng itu.
“Ah, apakah ‘Lily’ kembali?” tanyaku.
“Mungkin dia bisa menemukan dimana Nenek saat ini.”
“Aku hanya perlu mengikutinya!”
Kembali bergegas ke arah pintu ruang tamu, nyatanya aku tak bisa menemukannya. Tak ada lagi ruang-ruang bersekat yang mengisi rumah Nenek. Aku seakan berdiri di tengah aula putih tertutup.
Brrm ....