Aku berlari keluar, mencari seseorang yang lewat atau tetangga yang sedang berada di luar rumahnya. Namun sama sekali tidak ada. Bahkan rumah-rumah tetangga yang nampak kokoh itu —kosong. Tubuhku bisa masuk ke dalamnya, dengan melewati pagar serta pintu tanpa harus membukanya.
Tak ada angin.
Bahkan pohon-pohon yang hijau menjulang, perlahan warnanya menghilang meninggalkan hitam putih, dan abu-abu.
Jalanan begitu lengang. Tidak terlihat adanya kehidupan. Dedaunan rimbun yang memenuhi batang-batang pohon juga tampak tak bernapas.
Kuputuskan kembali masuk ke dalam rumah Nenek. Namun sebelum benar-benar masuk, aku berhenti terpaku di teras rumah. Pandanganku menatap ke segala penjuruh arah.
“Bukankah Bunda sebentar lagi sampai?”
Namun satu kenyataan keras menghantamku.
“Apa yang sedang kuharapkan?”
Aku menatap satu per satu benda di sekitarku. “Semua ini hanya ilusi. Bahkan ... aku sendiri ....”
Tiba-tiba suara deru sepeda motor kembali membahana. Diiringin detak jam yang terdengar begitu cepat, tidak seperti detak detik jam normal. Debar jantungku terus berpacu, seakan ada yang mengejar.
“Aku harus kembali melihat keadaan Nenek!”
Airmata terus mengalir tak henti. “Kenapa aku harus melupakan tanggal ini?” rutukku pada kebodohanku.
“Seharusnya aku sudah menyadarinya sejak melihat Nenek menyiram tanaman.”
“Atau seharusnya aku menyadarinya sejak terbangun dari tidur, dan menyesal karena nggak tidur di kamar Nenek.”
Aku kembali masuk ke dalam rumah. Melewati perabotan rumah yang sudah tak berwarna. Dan segalanya sunyi, bahkan derap langkahku turut bungkam.
“Uhuk ... uhuk ....”
Batuk Nenek semakin menggigil. Tangannya terus menekan-nekan dadanya yang tampak kesakitan. Tubuh Nenek sudah tersungkur di bawah. Tangannya tak lagi bertopang pada dinding, melainkan pada lantai-lantai putih..
Darah ....
Tubuhku bergidik melihat noda-noda darah yang membasahi mana-mana. Wajah Nenek putih pucat. Di dekat bibirnya, juga dipenuhi darah.
Tanganku gemetar.
“Nek ... pegang tanganku, Nek ....”
Aku mengulurkan tangan, namun sia-sia. Bukan hanya Nenek tak bisa melihatnya, tetapi bahkan tanganku menembus tubuh Nenek.
“Nek, tolong lihat aku, Nek ....” pintaku.
“Ayo kita ke rumah sakit.”
Bibirku bergetar. Tangisku semakin meledak.
“Kenapa ‘Lily’ nggak kembali?”
“Uhuk ... uhuk ....”
Nenek masih terus berjuang dengan batuknya. Perlahan merangkak, tampak berusaha keluar dari pantry.
“Nek ... mau kemana?”
Noda darah di lantai semakin memanjang seiring tangan Nenek yang terus mencoba bergerak. Kedua tanganku mengepal. Rasanya aku ingin memaki diriku sendiri yang hanya bisa menonton Nenek.
Tidak sampai satu meter Nenek bergerak, napasnya kemudian terdengar patah-patah. Aku berlutut, mencoba memeluk tubuh Nenek. Tentu saja percuma.
“Nek ....” rintihku.
“Tolong pegang tanganku ....”
Aku melihat tubuh Nenek semakin lemah. Perlahan berbaring di lantai, matanya semakin sayu hingga terpejam.
“Nek!” pekikku ditelan hampa.
“Bangun, Nek!”
“Ayo ke rumah sakit sekarang.”
Brrm ... brrm ....
Di antara jeritanku, suara deru mesin kembali terdengar. Tetapi aku mengabaikannya. Semua yang aku dengar dan rasakan saat ini hanya ilusi.
Krieek ....
Terdengar suara pintu, yang entah kapan mulai menutup, dibuka.
“Apa itu Bunda?”
Aku menarik napas panjang, menajamkan indera pendengarku agar dapat menangkap siapa dengan segera.
“Atau ... ‘Lily’?
Pandanganku bergantian melihat Nenek dan ke arah ruang tamu, menanti sosok yang baru datang itu muncul.
Aku menutup mata, membiarkan airmata tak henti mengalir.
“Itu ‘Lily’ ....”
“Itu aku ....” gumamku.
Bayangan kejadian tangal enam belas april mulai tersusun secara rapi di kepalaku.