Empat Tahun yang Sebelumnya
[Lily, kamu tunggu dulu ya, Bunda masih perjalanan ke sekolahmu dengan pak Sopir.]
‘Selalu saja. Aku begitu benci dengan kata tunggu.’
Matahari siang itu begitu terik. Aku beberapa kali mengusap peluh-peluh yang membasahi kening dan leher. Suara Bunda di ujung sana terdengar jelas walaupun latar suaranya begitu berisik. Aku yakin kedua adikku sedang bertengkar di dalam mobil. Entah karena mainan, jajan, atau hal sepele lainnya.
Aku memijat kening yang terasa pening. Menatap jalan raya tepat di depan pagar sekolahku.
Zebra cross yang tidak terlalu dekat dari sisi kiriku mengusik perhatianku.
“Bukankah rumahku hanya berjarak dua kilometer saja dari sekolah?” gumamku.
“Apa sebaiknya aku jalan kaki saja?”
Ide gila yang muncul akibat sengatan panas matahari, agaknya membuat kepalaku tidak bisa berpikir jernih. Saat ini tubuhku terasa remuk dan ingin segera sampai di rumah.
Aku begitu benci menunggu.
Hal yang sudah sering kulakukan sejak aku menginjak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Jarak sekolah dengan rumah saat itu cukup jauh, aku terbiasa menunggu hingga setengah bahkan hampir satu jam. Bahkan aku memilih sekolah di sini dengan harapan Bunda memperbolehkanku berangkat sendiri ke sekolah.
“Aku pulang sendiri aja, Bun,” putusku.
Hanya ada kata singkat sebagai tanda persetujuan oleh Bunda, lalu aku melangkah perlahan menyeberangi jalan raya yang cukup padat itu.
“Sebaiknya aku menunggu lampu lalu lintas di sebelah sana merah, agar nggak banyak kendaraan yang lewat di sini.”
Hanya dua sepeda motor muncul dari arah tikungan, disusul sebuah mobil yang melaju pelan. Mereka masih ada di jarak yang jauh. Aku sedikit berlari dengan tangan kanan terayun, sebagai isyarat agar mereka melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah dan membiarkanku menyeberang.
Usai melewati jalan raya, aku masuk ke dalam perumahan. Kali ini suasananya begitu sepi. Hanya ada rumah-rumah yang tampak kosong tak berpenghuni, bahkan pos satpam yang kulewati juga kosong.
“Lily ...”
Sebuah suara yang tak asing memanggilku. Kali ini lewat lagi perempuan berseragam yang sama denganku, dia dibonceng sepeda motor oleh Abangnya.
“Kok jalan?” tanyanya sambil lalu.
Aku tak bisa memberikan jawaban panjang, hanya tersenyum lebar. Membiarkan dia berlalu begitu saja.
Tepat jam satu siang, waktu pulang sekolah. Aku seakan mengumpankan diriku menjadi santapan sengatan matahari. Bukan karena kulitku terlalu putih, nyatanya kulitku pun masih tergolong sawo matang.
Hampir satu jam berlalu ketika akhirnya aku sampai tepat di depan rumah. Beberapa kali mengetuk gembok pagar, hingga perempuan berusia dua puluh tahunan akhir keluar dari dalam rumah.
“Naik apa, Kak?” tanya Mbak May, Asisten Rumah Tangga di rumahku.
“Bareng temannya, ya?”
Aku menggeleng lelah. “Jalan kaki,” gumamku tetapi masih terdengar.
Raut wajahnya berubah terkejut tak percaya. Sesaat membuka pagar, tubuhnya sedikit maju. Pandangannya menatap sekeliling. Mencari kendaraan yang baru saja mengantarku pulang. Hasilnya nihil.
“Kok nggak bareng Ibu? Tadi Ibu bilang mau sekalian jemput Kak Lily soalnya, ini matahari lagi terik-teriknya lho.”
Tentu saja aku sudah menyadarinya sejak memutuskan jalan kaki pulang ke rumah.
Aku hanya mengangguk, melangkah gontai masuk ke rumah. Tak ada lagi luapan emosi yang seharusnya keluar usai bergumul riuh di dalam kepala.
“Bunda masih lama,” jawabku lirih.
“Mbak tolong buatkan es teh ya?”
Udara panas dan rasa keringnya tenggorokan, benar-benar mencekik. Mungkin juga ditambah seharian berkutat dengan pelajaran-pelajaran di sekolah.
“Sudah ada di kulkas kok, Kak,” jawab Mbak May cepat.
Walaupun terik matahari seketika hilang ketika masuk rumah, namun udara panas terasa masih mengikuti.