Tiit ... tiiit ....
Suasana berubah begitu sunyi. Hanya suara mesin yang terdengar tenang dan teratur. Aku coba membuka mata perlahan. Sinar yang begitu terang membuatku kembali memejamkan mata, menyesuaikan cahaya yang ada.
Tangan kananku terangkat menghalau sedikit sinar yang masuk. Usapan lembut seakan mencoba menenangkanku. Tangan itu bergetar, namun terus berusaha mengusapku dengan lembut.
“Lily, kamu sudah sadar, Nak?”
Suara yang tak asing terdengar. Suara itu begitu pelan, bahkan aku yakin dia berbisik. Berhati-hati dalam mengucapkannya. Kupaksakan membuka mata, walaupun cahaya itu masih terasa mengganggu. Pandanganku sempat kabur sesaat.
“Di mana ini, Bun?” tanyaku sesaat melihat warna putih di sekitar. Bahkan sosok yang mengusap pelan kepalaku juga tak terlihat jelas.
“Di rumah sakit.”
“Rumah sakit?” desisku.
“Kenapa aku ada di rumah sakit?”
Aku mencoba bangkit perlahan. Seluruh tubuh terasa kaku, bahkan kakiku begitu berat. Pandanganku membeku melihat kaki kanan yang dibalut perban begitu rapi.
“Kenapa kakiku, Bun?”
Bunda menepuk pelan tangan kananku, sedikit membantu agar aku bisa duduk bersandar dengan nyaman. Usai memastikan kalau posisiku sama sekali tidak ada masalah, Bunda menarik kursi dan meletakkannya di dekat tempat tidur, kemudian duduk menatapku dengan pandangan cemas.
“Kamu kecelakaan, Lily,” jawab Bunda dengan hati-hati.
“Kakimu patah.”
“Apa kamu nggak mengingatnya?”
‘Kecelakaan?’
Kepalaku mengulang satu kata itu. Tak ada ingatan sama sekali tentangnya. Apa mungkin aku langsung tidak sadar sesaat kecelakaan terjadi?
Tok ... tok ....
Sesaat aku ingin menanyakan kembali, ketukan di pintu membuat percakapan kami terputus.
“Selamat pagi,” sapa pria paruh baya dengan jas putih.
Aku tidak mengenalnya, namun Ayah langsung berdiri mendekat. Senyumnya merekah lebar, begitu kontras dengan suasana rumah sakit yang terasa begitu sendu ini.
“Dia baru saja bangun,” ucap Ayah pada dokter itu.
“Bagaimana keadaannya? Ibunya begitu khawatir dengan perban itu, bahkan melarang kami menyentuhnya.”
“Kenapa takut?” tanya sang dokter tersenyum lebar menatap kedua orang tuaku bergantian, seraya mengangkat kakiku dan menggoyangkannya beberapa kali.
Terdengar pekikan kecil dari penghuni kamar rawat inap itu.
Pria yang tampak seumuran dengan Ayah, kembali tersenyum. “Tenang aja, ini bisa digerakkan bebas. Tetapi kamu belum boleh berjalan menggunakan kaki kananmu dulu.”
Dokter dengan kacamata itu menatap Ayah sejenak. “Dokter ini sahabat Ayahmu dari SMA lho!” ucapnya mengenalkan diri.
Sesaat terhenyak mendengar kenyataan yang baru saja kuketahui.
“Termakasih ya,” ucap Ayah.
“Padahal kamu lagi cuti, tetapi langsung balik ke Surabaya untuk mengoperasi.”
“Santai aja,” sahut beliau.
“Toh, memang sebetulnya hari ini terakhir aku cuti. Mau tidak mau, aku kembali ke Surabaya hari ini.”
“Jadi bagaimana saya berjalan?” tanyaku dengan formal.