“Apa maksudnya, Bun?” tanyaku, merasa mendengar hal yang tak mungkin.
“Nenek sudah meninggal empat tahun yang lalu? Bagaimana bisa?”
Bayangan Nenek yang akhirnya berbaring dengan merah pekatnya darah di tangan dan bibirnya langsung terbersit dengan jelas. Nenek pingsan, aku yakin itu terjadi tak lama sebelum aku berada di rumah sakit ini.
“Aku masih bersama Nenek beberapa saat yang lalu, sebelum aku bangun di rumah sakit ini.”
Sesaat hanya keheningan yang ada. Mataku menyorotkan keyakinan tak terbantahkan.
Aku masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan merah darah di tangan dan bibir Nenek masih begitu nyata.
“Dok, tadi dia bilang kalau sekarang tahun dua ribu sebelas,” gumam Bunda lirih tanpa tenaga.
Seketika semua orang yang ada di ruangan terdiam. Aku menatap dokter Erwin, namun beliau tetap tenang. Tak ada ekspresi lain yang kudapatkan.
“Saya akan mengajukan surat rujukan ke dokter spesialis saraf,” putus dokter Erwin akhirnya.
“Nanti dokter spesialis saraf yang akan menangani lebih lanjut.”
Ayah menahan lengan dokter Erwin. “Ada apa dengan anakku?” tanyanya.
Dokter Erwin menatap sahabatnya lurus. Sorot mata canda yang sedari tadi menghiasi matanya mendadak hilang.
“Aku belum bisa memastikan karena ini, bukan ranah keahlianku,” jawab dokter Erwin masih berusaha tenang.
“Awalnya kupikir ini hanya kecelakaan biasa dengan kasus tulang patah yang biasa kutangani. Tetapi sepertinya ada masalah lain.”
Dia melihatku sesaat, berusaha tersenyum lalu kembali menatap Ayah. “Aku akan merujuknya ke dokter spesialis saraf. Aku curiga ....”
Kalimat dokter Erwin berhenti, dia menarik napas cukup dalam. “Ada gangguan pada ingatannya. Tetapi aku belum bisa memastikan. Aku akan mengajukan pemeriksaan lebih lanjut pada dokter spesialis bidang tersebut,” lanjutnya dengan begitu lirih.
***
Aku menatap kosong langit-langit ruangan berwarna putih itu. Kalimat Bunda masih terus terngiang di kepalaku.
“Sekarang sudah tahun dua ribu lima belas, Lily,” ucap Bunda perlahan.
Sorot matanya memancarkan rasa khawatir yang begitu besar. Namun Bunda tampak berusaha tenang dan baik-baik saja.