Fragmen Tertinggal

Rizki Fa
Chapter #26

Dentang Pukul Dua

Tik ... tik ... tik ....

Mataku terpejam, membuat telingaku semakin tajam dengan suara-suara lirih di sekitar. Suara detik jam itu terus berbunyi lirih. Namun kali ini dengan mudah kuabaikan. Aku tak mengindahkan kata-kata perawat yang baru saja selesai mengganti perban di kakiku. Sebelumnya seorang pria separuh baya datang dengan membawa kruk yang nantinya kugunakan berjalan. Melatihku sejenak, kemudian berpamitan usai merasa aku sudah mampu menggunakannya.

Entah ada berapa orang lagi yang sudah masuk ke kamar rawatku ini. Kepalaku nyatanya terasa begitu berisik dengan kenyataan kalau Nenek sudah tidak ada. Sinar matahari menerobos langsung di balik kaca, membuatku sedikit tidak nyaman. Dengan berat, aku turun dari tempat tidur. Kuseret langkah kaki perlahan, mendekatkan diri menuju jendela. Hangatnya sinar matahari justru menimbulkan rasa nyeri perlahan yang semakin nyata.

Tanpa menimbang lagi, kututup rapat tirai jendela. Membiarkan sedikit cahaya berhasil masuk ke dalam kamar. Seketika tubuhku merosot, punggung kusandarkan pada dinding, kemudian menenggelamkan kepala. Remangnya ruangan sedikit mendinginkan kepalaku.

“Mimpi itu benar-benar terasa nyata,” bisikku.

Kupejamkan mata. “Aku bukan tersesat.”

Kali ini kutelusuri satu per satu ingatanku yang sebenarnya tentang Nenek.

“Beberapa tahun yang lalu ....”

“Ternyata benar-benar beberapa tahun yang lalu.”

Tik ... tik ... tik ....

Suara detik jam semakin mendominasi. Air mata perlahan mengalir. Aku masih megingat bagaimana aku langsung berlari ke luar ruangan, usai dosen mengakhiri kuliah, terlihat begitu jelas. Aku sama sekali tak mengindahkan perut yang keroncongan. Rasa lapar seketika menghilang karena pikiran kalut, ingin menemui Nenek. Kuputuskan berlari menuruni anak tangga dari lantai enam menuju lantai satu, usai melihat antrian lift yang cukup padat.

“Lily, kamu nggak turun dengan lift aja?” teriak Mia begitu heran melihatku bergegas menuruni anak tangga.

“Nggak, terlalu lama antriannya. Aku buru-buru,” jawabku yang bahkan mungkin tidak terdengar olehnya.

Sesaat menoleh ke atas, bahkan sosoknya sudah tak terlihat. Napasku naik turun, namun hal itu sama sekali tak menggangguku. Aku harus bergegas sekarang.

Angin malam langsung menyapa, sesaat melewati lobby fakultas. Entah berapa menit yang kulalui hingga sampai di gerbang universitas. Beruntung gedung fakultasku berada di paling ujung di antara fakultas lainnya. Aku masih berlari dengan diterangi lampu-lampu jalanan kampus. Tidak tahu tenaga dari mana yang masih begitu mendukungku.

Tepat di depan gerbang universitas, aku mulai melambatkan langkah. Menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum menyeberangi jalan kota, untuk mencapai gedung tepat di seberang kampus. ‘Graha Amerta’. Tubuhku sedikit merinding membaca tulisan itu.

Bayangan kakek yang beberapa tahun lalu dirawat di sini hingga napas terakhirnya, membuatku sedikit gelisah.

“Kenapa nggak kembali aja ke rumah sakit siloam?”

Sesaat pikiran buruk hinggap, aku segera menggeleng. “Nggak, kali ini cerita Nenek pasti berbeda,” batinku menguatkan diri.

Kendaraan mulai berkurang karena lampu merah, petugas penyeberangan di depan kampus segera membunyikan peluitnya dan mengiringiku menyeberangi jalan. Dinginnya lobby rumah sakit beserta bau khas langsung menyambut. Aku berjalan menuju lift dan menekan angka enam. Tak ada lagi yang masuk, membuat lift itu berhenti di tujuan dengan cepat.

Keluar lift masih dengan sedikit berlari, beruntung sepatu ketsku sama sekali tidak berisik setiap aku melangkah. Aku membuka pelan ruangan yang hampir seminggu ini kuhampiri. Melewati ruang tamu, sosok Nenek segera kutemukan sedang berbaring dengan tenang.

“Assalamualaikum,” sapaku pada Bunda dan om Sada, adik bungsu Bunda, yang sedang sibuk membaca Al Quran di samping tempat tidur Nenek.

“Waalaikum salam warrahmatullah,” jawab Bunda.

“Ayo makan dulu, Ly,” ajak Bunda seraya mengatur beberapa bungkus makanan di atas meja berukuran sedang.

Aku mengangguk, meraih tangan Bunda dan menciumnya.

“Sudah makan, Om?” tanyaku seraya mendekati om Sada dan mencium tangannya.

“Belum,” jawab om Sada tenang.

“Kamu baru selesai kuliah?”

Aku mengangguk. “Iya, tadi ada kuliah jam setengah empat sore.”

Lihat selengkapnya