From Dare to Love

KiM Latte
Chapter #3

3. Tantangan Gila

Chessy memukul pipi kedua sahabatnya secara bergantian. Ia berusaha menyadarkan mereka dengan apa yang baru saja mereka sarankan. Tidak hanya memukul pipi mereka, ia juga menempelkan punggung tangan ke dahi mereka. Ia khawatir, suhu tubuh kedua temannya tidak stabil.


Mendengar nama lelaki itu disebut saja membuat bulu kuduk Chessy berdiri. Pasalnya, lelaki itu dikenal sebagai pribadi yang arogan dan sangat dingin. Belum pernah ia melihat lelaki bertubuh jangkung tersebut tersenyum. Wajah runcingnya terlihat datar dengan tatapan yang tidak menyiratkan apa pun. Asisten dosen tersebut misterius bagi Chessy. Bagaimana bisa ia memenuhi tantangan gila ini?


"Kalian kalau ngasih tantangan itu yang wajar-wajar aja. Jangan kelewat batas begini," tolak Chessy pelan.


"Ches, kamu tahu, ini kami lakukan demi kamu juga. Coba kamu bayangkan jika kamu berhasil mendekati si Muka Dingin itu dan membuatnya jatuh cinta padamu. Kamu bukan hanya mendapatkan pasangan, tapi kamu bisa membungkam mulut Ghania serta mematahkan hatinya. Bukankah terlalu banyak bonus yang kamu dapatkan dengan melakukan satu tantangan?" jelas Nura.


"Tapi jangan Pak Arshaka. Dia itu patung, mana bisa didekati. Kita ngomong aja nggak akan digubris. Duh, kalian kasih tantangan lain, deh. Lebih baik kalian nyuruh aku nyatain cinta sama senior daripada dekatin dia."


"Sekedar pernyataan tanpa ada perasaan itu nggak asik, Ches. Ayo, kita buktikan pada semua orang bahwa kamu itu normal. Kamu dan lelaki bisa menjalin hubungan khusus. Mereka semua salah menilai kamu," imbuh Nuha.


Chessy menengadah dengan napas berat. Kedua temannya pasti juga terbebani dengan omongan orang lain tentang dirinya. Apalagi pernyataan Ghania pagi tadi yang menyatakan dirinya menjalin hubungan dengan salah seorang sahabatnya, tentu itu bisa merusak citra kedua sahabatnya. Bagaimana perasaan pasangan mereka jika mendengar kabar tak berdasar itu? Meski tidak percaya, tapi pasti terbersit rasa risih dalam hati mereka.


Akan tetapi, jika membayangkan wajah lelaki yang harus didekatinya, itu sungguh sulit. Ia bahkan tidak tahu langkah apa yang terlebih dahulu harus dilakukan untuk menjalani misi yang belum diterimanya.


Saat semester tiga dan empat ia pernah masuk di kelas Arshaka. Semua mahasiswa segan padanya, karena ekspresi yang dipasang pada wajah sangat tidak bersahabat. Meski demikian, Chessy mengakui bahwa lelaki itu pintar dan tahu cara menjelaskan dengan ringkas agar pendengar paham apa yang dimaksudnya.


Kelas yang diajar Arshaka begitu sunyi karena tidak ada yang berani bersuara meski hanya sekedar gesekan kaki. Mereka khawatir, jika bersuara maka Arshaka akan melayangkan tatapan mematikannya dan membuat para mahasiswa gemetar keringat dingin. Padahal, Arshaka tidak pernah mempermasalahkan siapa pun bergerak di kelas, hanya saja kekhawatiran para mahasiswa yang terlalu berlebihan.


Lihat selengkapnya