Lucas Axelio menarik napas panjang saat gerbang besi Sekolah Garuda Persada terbuka perlahan di hadapannya. Mata tajamnya menyapu sekeliling bangunan tinggi, arsitektur megah, dan suasana yang terlalu sunyi untuk ukuran sekolah elit.
Langkahnya mantap, meski pandangan beberapa siswa mengarah padanya. Mereka berbisik, menilai, dan sebagian bahkan tampak takut. Lucas sudah terbiasa dengan itu.
Ia bukan siswa biasa.
Dan ia tahu, sekolah ini juga bukan tempat biasa.
"Lucas Axelio, kamu ya?"
Suara seorang guru perempuan memanggilnya. Wajahnya ramah, tapi bola matanya gelisah.
"Ya, Bu. Siswa pindahan." Lucas menjawab dengan sopan, ia tersenyum, namun senyumannya terlihat dingin.
"Saya Bu Danti, wali kelas kamu. Maaf kalau suasananya agak tidak menyenangkan. Masih banyak yang kaget dengan kejadian kemarin."
Lucas diam.
Tentu saja. Pembunuhan itu.
"Ada yang gantung diri, katanya?" Lucas bertanya santai, tapi sorot matanya menusuk.
Wajah Bu Danti menegang. "Kami tidak bisa berkomentar soal itu, tapi ... kami harap kamu fokus belajar, ya."
Lucas tidak menjawab. Fokusnya bukan itu.
Saat berjalan ke kelas, langkahnya terhenti. Matanya tertuju ke satu ruangan di ujung lorong lantai tiga. Ruangan itu kosong. Terpencil,
dan meskipun tertutup, Lucas merasa seperti ada yang mengawasi dari balik pintu itu.
Ruang 17.
Dia sudah tahu tentang ruangan itu. Sudah membaca banyak dari laporan tidak resmi, arsip tersembunyi, hingga artikel yang telah dihapus dari internet.
Lucas Axelio bukan siswa biasa.
Dia dikirim ke sini bukan untuk belajar, tapi untuk menyelidiki.
Dan dia tahu, setiap teka-teki dimulai dari ruangan itu.
______
Langkah kaki Lucas menggema saat ia melangkah masuk ke kelas XI-7.
Suasana yang tadinya ribut langsung sunyi. Mata-mata menoleh dan semua murid membisu. Beberapa siswi menahan napas. Cowok-cowok memicingkan mata, dan di deretan bangku belakang, duduk sosok yang langsung menguapkan aura dominasi.
Zorion.
Seragamnya tak rapi. Kaki diangkat ke atas meja. Matanya setajam silet, menilai Lucas dari ujung kepala sampai kaki. Dan di sekelilingnya, para pengikut setia dari geng Devils-geng paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti di sekolah Garuda Persada.
Lucas berdiri tenang. Tatapannya netral, tapi dalam. Ia tahu jenis seperti Zorion. Yang ingin menguasai semua, tapi belum pernah diuji melawan seseorang seperti dia.
"Lo anak baru?" Zorion akhirnya bicara, nada suaranya seolah mencibir.
Lucas hanya mengangguk pelan. "Lucas."
"Nama bagus." Zorion berdiri. Posturnya tinggi, berisi. Namun Lucas tidak gentar. "Cuma sayang ... yang punya nama bagus biasanya cuma numpang lewat di sini."
Beberapa orang terkekeh pelan. Dan ketegangan mulai menebal.
Lucas tersenyum tipis. "Gue nggak numpang lewat. Gue datang karena sesuatu yang lebih besar dari lo."
Suasana menjadi hening. Bahkan suara AC pun terasa menusuk.
Zorion mendekat, nyaris menempel. "Lo berani nantang gue, Pendatang?"
Lucas menatap lurus dengan tatapan dingin. "Gue nggak perlu nantang. Gue di sini buat liat ... siapa yang pantas dijatuhkan lebih dulu."