Rumah tempat Lucas tinggal tampak biasa saja dari luar, dua lantai bergaya modern minimalis di kawasan perumahan elite. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa tepat di balik lemari bukunya, tersembunyi sebuah ruang rahasia yang tak pernah tersentuh cahaya matahari.
Dengan satu gerakan halus, Lucas mendorong sisi rak buku ke kiri. Sebuah suara klik terdengar, lalu panel tersembunyi terbuka. Ia masuk dan menutupnya kembali dari dalam.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi monitor-monitor besar yang menyala di dinding. Cahaya kebiruan dari layar memantulkan siluet Lucas saat ia duduk di kursi kulit yang terletak di tengah ruangan. Di sekelilingnya terdapat foto-foto korban, potongan artikel, peta sekolah Garuda Persada, dan...
Angka 17. Tertulis besar di papan tulis digital, dengan benang merah yang terhubung ke berbagai kejadian.
Lucas menyalakan rekaman suara.
“Korban pertama... tahun 2008. Siswi kelas 3, ditemukan di ruang musik. Tidak ada luka fisik, tapi jantungnya berhenti tanpa sebab. Di piano, terdapat angka 17 ditulis dengan darah beku.”
Lucas menatap layar monitor. Wajahnya tanpa emosi, tapi matanya berbicara lain, dingin, tajam, dan penuh perhitungan.
Ia mulai mengetik cepat. Menyusun pola. Mencocokkan nama-nama. Menganalisis waktu kejadian, tempat, dan hubungan antar korban. Semuanya terlihat acak—kecuali satu hal.
Setiap korban memiliki keterkaitan dengan sesuatu yang disembunyikan oleh sekolah.
Tangan Lucas berhenti. Ia menatap satu foto buram yang diambil diam-diam. Kepala sekolah, berdiri bersama seorang pria berpakaian militer. Di balik foto, ada tulisan tangan samar.
“Proyek G17.”
Lucas menghela napas pelan, lalu membuka laci tersembunyi di mejanya. Di dalamnya, terdapat kalung aneh—satu-satunya peninggalan dari masa lalu kelamnya di fasilitas eksperimen. Kalung itu punya ukiran angka 17 di bagian belakangnya.
“Sepertinya ini bukan hanya soal pembunuhan biasa,” bisiknya. “Ini tentang aku. Tentang masa lalu yang nggak pernah benar-benar mati.”
Monitor berbunyi. Sebuah pesan masuk dari sistem pengawasan pribadinya.
[Akses tidak sah terdeteksi — Lokasi: Sekolah Garuda Persada, Lantai 2, Ruang Gudang Lama.]
Lucas berdiri cepat. Waktunya untuk dia bergerak.
Lucas menatap layar monitor tanpa berkedip. Pesan itu terus terngiang di benaknya.
Akses tidak sah terdeteksi — Lokasi: Sekolah Garuda Persada, Lantai 2, Ruang Gudang Lama.