Pagi itu, langit mendung menggantung rendah di atas Sekolah Garuda Persada. Udara terasa berat, seperti menyimpan rahasia yang tak ingin dibongkar.
Lucas berjalan memasuki gerbang sekolah seperti biasa, mengenakan seragam lengkap dan wajah datar tanpa ekspresi. Tapi dalam benaknya, peristiwa semalam masih terus berputar. Gudang lama, suara langkah misterius, dan… Yuka yang datang tepat waktu. Semua itu bukan kebetulan.
Lorong sekolah masih sepi. Baru beberapa siswa yang datang. Tapi saat Lucas melewati aula utama, langkahnya terhenti.
Zorion berdiri di sana—sendirian, bersandar di dinding dekat papan pengumuman. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, tubuhnya tampak santai... tapi matanya—tatapan itu—tajam seperti pisau, mengunci langsung ke arah Lucas.
Mereka saling menatap. Hening.
Zorion melangkah maju perlahan, tak melepaskan pandangannya.
“Lucas Axelio,” ucapnya dengan nada tenang, terlalu tenang. “Kau masuk pagi sekali.”
Lucas tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, memperhatikan setiap gerak-gerik Zorion. Insting lamanya dari Proyek G17 kembali bekerja—waspada, mengukur, menilai.
“Lorong belakang sekolah semalam,” kata Zorion, suaranya nyaris seperti bisikan. “Ada yang mengaktifkan sensor gerak... Tapi anehnya, data itu hilang begitu saja dari server pusat.” Dia tersenyum tipis. “Lo tahu apa-apa soal itu?”
Lucas menatap Zorion dengan lurus. “Kenapa Lo bertanya seolah Lo yang jagain server sekolah?”
“Bukan gue,” balas Zorion, bahunya terangkat santai. “Tapi penjaga sekolah pernah bilang... sekolah ini punya sistem yang hanya bisa diakses oleh mereka yang tahu kuncinya.”
Lucas tak berkedip. “Dan Lo tahu kuncinya?”
Zorion mendekat, jarak mereka kini hanya sehelai nafas.
“Gue tahu Lo bukan siswa biasa, Lucas.” Suaranya turun satu oktaf. “Pertanyaannya... Lo masih di pihak yang mana?”
Lucas tak menjawab. Detik itu, keduanya tahu—ini bukan lagi sekadar percakapan siswa di pagi hari. Ini adalah deklarasi tak langsung. Sebuah peringatan.
Bel berbunyi nyaring, memutus ketegangan. Zorion melangkah mundur, masih dengan senyum datarnya.
“Kita lihat saja nanti,” ucapnya sebelum berbalik dan berjalan pergi.
Lucas berdiri diam. Detak jantungnya tetap tenang, tapi pikirannya kini penuh alarm. Zorion bukan sekadar murid pintar… dia menyimpan sesuatu.
Dan bisa jadi… dia juga bagian dari G17.
______
Langit sudah sedikit lebih cerah ketika Lucas duduk di bangku taman belakang sekolah, area yang jarang dilalui siswa. Ia menunduk, menatap laptop kecil di pangkuannya sambil memeriksa data yang semalam sempat ia ambil dari sistem pengawasan.
Langkah cepat dan ringan menghampiri. Yuka datang dengan wajah cemas namun tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
“Lucas!” panggilnya pelan sambil duduk di sebelahnya, masih ngos-ngosan. “Kamu gila ya! Kenapa kamu balik lagi ke sekolah setelah semalam hampir—hampir…” dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Lucas menutup laptopnya pelan. “Justru karena semalam,” jawabnya tenang, “aku harus balik.”
Yuka memelototinya. “Kamu sadar nggak sih ini semua bisa ngebahayain nyawa kamu? Ada yang nggak beres di sekolah ini, dan kamu malah nyari masalah?”
Lucas menoleh padanya. “Aku nggak nyari masalah. Aku nyari jawaban.”
Yuka terdiam beberapa detik. Tatapannya melembut, lalu dia berkata lebih pelan, “Kamu yakin?”
Lucas tidak menjawab, tapi Yuka menangkap kilatan kecil di mata Lucas yang mengonfirmasi segalanya.