Hujan rintik turun pelan saat malam mulai memeluk kota. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke trotoar basah, menciptakan bayangan yang bergoyang pelan saat sebuah siluet melangkah perlahan di kejauhan.
Langkahnya ringan, nyaris tak terdengar. Ia menjaga jarak cukup jauh, tapi cukup dekat untuk tidak kehilangan jejak.
Lucas, di kejauhan, baru saja membuka gerbang rumahnya dan masuk. Gerakan refleksnya cepat-memindai lingkungan, memastikan tidak ada yang mengikutinya. Tapi malam ini, ia tak menyadari satu hal.
Bayangan diam-diam bisa lebih ahli dari cahaya.
Zorion berdiri di balik tiang listrik, memperhatikan rumah dua lantai modern itu dengan mata menyipit. Ia tak menunjukkan emosi. Tak ada rasa terkejut, kagum, atau penasaran. Yang ada hanya kalkulasi-dingin dan presisi.
"Jadi ini markas lo..." gumamnya pelan.
Lalu ia menatap ke lantai atas-tepat ke arah kamar Lucas yang tersembunyi di balik lemari buku itu.
Senyum kecil muncul lagi di wajah Zorion. Tapi kali ini, ada nada ancaman samar di dalamnya.
"Gue mau tahu... seberapa dalam lo simpan rahasia lo, Subjek #07."
Ia menatap sejenak lebih lama, lalu berbalik, menghilang dalam kegelapan malam.
Tapi dia belum selesai. Ini baru permulaan.
Lucas menutup pintu ruang rahasianya, lalu berjalan ke kamar biasa di lantai atas. Ia menarik tirai jendela sambil menghela napas pelan-malam itu terasa terlalu sunyi, bahkan untuk ukuran rumahnya yang selalu sepi.
Tapi saat tirai terbuka...
Mata Lucas membelalak sedikit.
Di balik gerbang rumahnya-terlihat sekilas, sesosok bayangan berdiri diam.
Bukan bayangan dari pohon. Bukan pantulan dari mobil. Tapi... seseorang.
Hanya satu detik. Mungkin kurang. Tapi cukup untuk membuat insting Lucas bekerja cepat.
Ia segera mematikan semua lampu di kamarnya, lalu menarik hoodie hitam dari lemari. Tanpa suara, ia turun ke lantai bawah dan menyelinap ke sisi rumah, mendekati jendela samping yang menghadap ke arah gerbang luar.
Kosong.
Tidak ada siapa pun.
Tapi jejak di tanah basah masih tertinggal. Sepasang bekas sepatu, terarah tepat ke depan rumah... dan menghilang ke arah jalan kecil di samping pagar.
Lucas memicingkan mata. Dengkuran kecil dari unit komputer di ruang rahasia masih terdengar dari balik tembok. Tapi malam ini, ia merasa semuanya tidak aman.
Lucas menatap langit yang mulai ditutupi awan hitam.
"Ada yang memperhatikan," bisiknya.
Dan ia yakin... siapapun itu, bukan orang biasa.
Lucas melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan gerakan perlahan. Pintu ditutup nyaris tanpa suara. Tangan kirinya masih menggenggam pisau lipat kecil-bukan karena panik, tapi berjaga.
Mata elangnya menyapu ruangan demi ruangan. Lorong, ruang tamu, dapur, semuanya dalam kondisi normal. Tapi perasaannya tidak tenang. Ada sesuatu yang mengusik seperti tatapan yang belum pergi.
Setelah memastikan seluruh rumah kosong, Lucas kembali naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu, lalu segera mengambil ponsel dari meja.
Tangannya bergerak cepat menekan kontak di ponselnya.
[Yuka - aktif]
Panggilan hanya berdering sekali sebelum suara di seberang menjawab cepat.
"Lucas? Kamu udah siap?" suara Yuka terdengar antusias.
Lucas menghela napas pendek, lalu duduk di ujung ranjang. "Yuka... kita batalin malam ini."
"Hah? Kenapa? Bukannya tadi kamu bilang-"
"Ada yang memata-matai rumahku."
Suara Yuka menjadi lebih serius. "Kamu yakin?"
"Aku lihat bayangan seseorang di depan gerbang. Tapi waktu aku keluar, dia udah nggak ada. Hanya ada jejak kaki di tanah basah. Aku nggak tahu siapa, tapi... dia cukup tahu cara menghilang."
Lucas berdiri, berjalan ke jendela dan menatap keluar.
"Aku nggak mau ambil risiko. Kita tunda dulu penyelidikannya sampai aku pastikan semuanya aman."
Yuka terdengar menarik napas dalam-dalam. "Oke. Hati-hati, Lucas."
Lucas menutup panggilan tanpa berkata apa-apa lagi. Ia menaruh ponsel, lalu berjalan ke sisi lemari dan menyandarkan dirinya ke dinding.
Pikirannya kembali pada bayangan itu. Dan pada satu nama yang langsung muncul di kepalanya... Zorion.
______