Malam itu, bulan telah bertengger tinggi di langit. Jam dinding telah menunjukkan pukul 21.59. Waktu yang sesungguhnya merayu siapa pun untuk beristirahat dan memejamkan mata.
Tapi tidak untuk malam ini.
Laptop terbuka. Monitor menyala.
Dan mungkin bukan hanya di dalam satu rumah saja. Hampir tiap rumah di penjuru Indonesia tengah menanti jam 22.00 hari ini demi sebuah langkah menuju masa depan:
Pengumuman seleksi penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri.
Sebuah sentuhan jari di atas keyboard dengan gemetar mengetikkan nomor peserta seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Beberapa detik jari itu mengetik, lalu berhenti sebentar.
Jam di pojok kanan bawah monitor akhirnya menunjukkan angka 22.00.
Dengan sebuah tarikan napas, tombol enter ditekan pelan.
Layar berganti, tampilan berubah menjadi putih di monitor.
Beberapa detik yang seakan terlalu lama akhirnya berakhir. Layar monitor menampilkan sebuah hasil seleksi dari nomor tersebut.
Nama : Muhammad Sultoni
Jurusan : Ilmu Perdagangan Internasional
Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Indonesia
Status : Diterima
Toni, begitu panggilannya, napasnya tanpa sadar tertahan. Tanpa sadar pula ia segera bangkit dari kursinya
"Ibu! Bapak!" teriaknya. "Aku diterima!"
Teriakan pemuda berusia delapan belas tahun itu sontak membangunkan kedua orang tuanya yang tengah menanti dengan penuh harap di kamar sebelah.
CEKLEK!
Gagang pintu kamar Toni berbunyi. Pintu itu terbuka tanpa diminta.
Ibunya melesat masuk dan segera memeluk Toni tanpa berkata apa pun.
"Alhamdulilah ... alhamdulilah, Ton!" ucap sang ibu berkali-kali. Siapa pun dapat dengan jelas melihat linangan air mata di sudut matanya. Sebuah air mata kebanggaan, haru, dan syukur berkumpul menjadi satu.
"Diterima jurusan apa, Ton?" tanya sang ayah yang telah menyusul masuk ke dalam kamarnya dan berdiri tegak di belakang ibunya. Meski wajahnya menyiratkan sisa-sisa energi di malam itu, ia tetap sekuat tenaga menahan rasa kantuk demi mendengar kabar istimewa dari putra kesayangannya.
"Jurusan Ilmu Perdagangan Internasional, Pak!" jawab Toni. Senyum merekah di wajahnya, seakan me-recharge kembali semangatnya di penghujung hari.
"Alhamdulilah, Ton!" ucap sang ibu, kini memandangi wajah Toni lekat-lekat. "Itu kan pilihan pertama kamu!"
Toni mengangguk, senyuman semakin lebar mengembang di wajahnya. "Iya, Bu! Alhamdulilah, ya!"
"Alhamdulilah," gumam sang ayah pelan. "Kapan daftar ulangnya, Ton?"
Toni kembali menatap layar laptopnya. "Ini dibilang di sini sih ... daftar ulang mulai besok sampai minggu depan ... dengan membawa hasil pengumuman ini dan menyerahkan berkas di kampus masing-masing, Pak!"
Sang ayah mengangguk singkat.
"Nah, besok pagi kamu siapin deh semua berkasnya biar langsung berangkat!" perintah sang ayah.
"Iya, Pak!" pungkas Toni mengakhiri perbincangan malam itu dengan semangat baru yang membara di dadanya.
Keesokan paginya, jam dinding telah menunjukkan pukul 07.00. Toni telah mengenakan kemeja kasual dipadukan dengan celana panjang jeans. Ia kemudian meraih berkas yang telah ia siapkan semalam di atas meja.