Gadis Bernama Hening

Affry Johan
Chapter #4

Kerja Kelompok

Jam di dinding telah menunjukkan tepat pukul 06.00. Langit biru di luar mulai terang dihiasi awan putih.

Kesibukan mulai menggeliat di dalam rumah Toni pagi itu. Ibu Toni yang biasanya hilir mudik di dapur sejak subuh, sontak menghentikan langkahnya sejenak di ruang tamu.

"Keren banget kamu, Ton!" ucap sang ibu saat melihat Toni yang bersiap berangkat kuliah pagi itu. Jaket almamater berwarna biru baru saja ia kenakan. Mungkin itulah yang menjadi alasan keluarnya pujian dari ibunya itu.

"Udah beneran jadi mahasiswa, nih!" timpal ayahnya dengan senyum mesem-mesem.

"Iya nih, mulai hari ini harus dipake tiap hari setiap ke kampus!" jawab Toni seraya menyampirkan ranselnya. "Toni berangkat dulu ya, Bu!"

Beberapa saat kemudian, Toni telah tiba kembali di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Indonesia. Koridor kampus sudah ramai dengan para mahasiswa baru yang juga mengenakan jaket almamater biru yang sama. Beberapa mahasiswa baru tengah duduk di selasar sambil tertawa bersama teman satu jurusannya. Sementara ada juga segelintir kecil mahasiswa yang berjalan cepat mencari-cari ruang kelasnya.

Tak lama, Toni segera masuk ke dalam ruangan kelas Gedung H. Udara pendingin ruangan langsung menyambut begitu ia melangkah memasuki pintu kelas.

“Ton!” panggil Eko dari bangku tengah. "Sini, Ton!"

Toni segera menghampiri deretan bangku tengah lalu duduk di sebelahnya.

“Naik apa lo, Ton?" tanya Eko saat Toni melangkah melewati kursinya.

"Ya kayak biasa lah, kereta!" sahut Toni cepat.

Belum sempat ia duduk, matanya terkunci dengan gadis berjaket almamater biru yang baru saja masuk.

He-hening ....

Padahal sama-sama pake jaket biru ....

Kenapa dia ... cantiknya malah nambah?

Tanpa diduga, Hening melirik ke arahnya. Toni yang tidak siap atas tatapan itu, buru-buru beranjak duduk.

"Aduh!" gumam Toni pelan yang tanpa sengaja justru menduduki ranselnya sendiri.

"Waduh, santai aja, Bos!" celetuk Eko sambil menutupi mulut dengan tangannya, mencoba menahan tawa.

Toni yang sedang menahan malu mencoba berkilah. "Iya, kursinya beda kayak jaman kita sekolah dulu ya, gue belom terbiasa nih!"

Toni kembali melirik ke arah Hening yang berjalan melewati deretan kursinya. Berbeda dengan Eko yang cekikikan, tatapan Hening tetap lurus ke depan dan ekspresi mukanya pun tidak berubah.

Beberapa menit kemudian, seorang pria berumur sekitar empat puluhan berjalan masuk ke dalam kelas sambil membawa laptop hitam dan langsung duduk di meja paling depan.

“Selamat pagi semuanya!” serunya seraya sibuk membuka monitor laptop dan memasang charger laptopnya.

“Pagi, Pak!”

Dosen itu berhenti sejenak dan menatap para mahasiswa yang telah duduk diam menatapnya.

“Saya Afrizal. Untuk semester ini saya akan mengajar mata kuliah Pengantar Perdagangan Internasional.”

Pak Afrizal langsung menyalakan proyektor di dekatnya. Tampilan Power Point muncul di layar depan kelas. Slide pertama berisi judul materi hari itu : Pengantar Perdagangan Internasional.

Kuliah pun dimulai.

Pak Afrizal menjelaskan tentang perdagangan internasional, kegiatan ekspor impor, hingga berbagai dokumen yang digunakan dalam proses ekspor.

Sebagian mahasiswa terlihat diam mendengarkan dengan seksama, namun Toni justru sibuk mencatat hampir semua yang dijelaskan. Tangannya bergerak cepat menulis poin demi poin.

Eko melirik heran ke arahnya. “Dih … Ton, ngapain nyatet?”

“Ntar keburu lupa gue, Ko!” jawab Toni cepat.

Eko hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh kecil.

"Ribet amat, kan tinggal difoto aja!" serunya seraya mengarahkan ponselnya ke arah depan kelas. "Nah gini kan beres!"

"Iya juga sih, tapi kalo hape gue ilang, ntar nggak ada back up, dong!" balas Toni yang langsung melanjutkan menulis di buku catatannya.

Beberapa saat berlalu, Pak Afrizal akhirnya sampai di slide terakhir.

“Nah materi kita sampai sini dulu. Minggu depan kita mulai presentasi kelompok!”

Suasana kelas mendadak ramai.

“Kalian akan bagi kelompok dan membahas apa yang ada di materi saya tadi. Ada Incoterms, Bill of Lading, Surat Keterangan Asal Barang, asuransi kargo, dan Pemberitahuan Ekspor Barang!” lanjut Pak Afrizal.

Pak Afrizal kemudian mulai membacakan pembagian kelompok satu per satu.

“Kelompok dua! Chandra, Muhammad Sultoni, Anita, dan Hening. Kelompok dua bahas Surat Keterangan Asal Barang atau SKA ya!”

Jantung Toni seakan berhenti berdetak.

Lihat selengkapnya