Gadis Bernama Hening

Affry Johan
Chapter #5

Presentasi

Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Tak terasa hari ini merupakan giliran Toni dan kelompoknya untuk presentasi. Pagi ini, empat buah kursi diletakkan di depan kelas selayaknya layout sebuah konferensi pers. Di sana, Anita, Chandra, Hening, dan Toni duduk dengan proyektor menampilkan presentasi kelompok mereka. Pak Afrizal berdiri dengan melipat tangan, mendengarkan pemaparan dengan seksama. Beberapa mahasiswa yang duduk di kursi terdepan terlihat fokus menatap depan, meski teman-temannya di barisan belakang terlihat sibuk sendiri mengutak-atik ponsel mereka.

"Sekian presentasi dari kelompok kami," ucap Toni mengakhiri presentasinya.

"Oke ya, selanjutnya kami membuka sesi tanya jawab," sambung Chandra yang seakan-akan bertindak sebagai moderator. "Mungkin ada dari Teman-teman yang ingin bertanya atau memberi tanggapan, kami persilakan!"

Tak ada satu pun mahasiswa yang mengangkat tangan selama beberapa detik hingga akhirnya Irman mengangkat tinggi tangannya.

Aduh ... ngapain dia pake nanya segala sih?!

Toni menghembuskan napasnya panjang sementara teman satu kelompoknya justru terlihat menahan napas.

"Ya, silakan Bapak Irman!" seru Chandra mempersilakan.

"Terima kasih atas kesempatannya," mulai Irman. "Saya mau nanya sedikit aja, kalau misalnya ada eksportir kirim barang, tapi nggak ada SKA-nya ... itu bisa nggak?"

Seketika, Anita dan Chandra yang duduk di kursi paling pinggir segera menolehkan kepalanya ke kursi tengah, kursi tempat Hening dan Toni duduk.

"Eh, bisa nggak, sih?" tanya Anita sambil berbisik kecil.

Chandra langsung menimpali. "Bisa, kan? Kan barangnya tetap diangkut di atas kapal?"

"Eh, tapi ini jadi syarat barang masuk nggak, sih?" sambar Toni cepat.

Belum sempat keputusan kelompok diambil, mata mereka sekejap terbelalak melihat Hening yang dari tadi hanya diam, tiba-tiba mengangkat tangannya.

Eh?

Dia mau jawab apa?

Ekspresi muka Toni tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Begitu pula Anita dan Chandra yang langsung terdiam.

"Menurut kelompok kami," Hening memulai jawabannya, "meskipun barang tetap bisa diangkut di atas kapal, namun kemungkinan besar barang itu akan ditahan oleh otoritas negara importir!"

Ruangan kelas mendadak riuh dengan bisik-bisik kecil. Pak Afrizal justru terlihat tersenyum kecil mendengar jawaban itu.

"Kenapa barangnya jadi ditahan, ya?" tanya Irman lebih lanjut.

"Gampangnya gini," ujar Hening sembari mencoba mengatur napasnya. "Kalau nggak ada SKA, berarti nggak ada bukti resmi bahwa barang ini tuh asalnya dari mana. Di mata petugas, bisa aja ini barang ilegal atau selundupan!"

Demi apa?

Apa dia ... emang sepinter itu?

Tatapan mata Toni masih belum beranjak dari Hening. Seisi kelas pun nyaris tak bersuara. Jawabannya barusan itu terdengar simple sekaligus to the point di saat yang sama.

"Ehem!" Pak Afrizal berdehem dan maju selangkah. "Iya, jadi bener ya yang dibilang teman kalian, wah ini barang nggak ada keterangan asalnya nih, jangan-jangan selundupan lagi!"

Irman terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.

"Tapi," lanjut Pak Afrizal," ada satu lagi alasan utama dari sisi importir, kenapa SKA itu diperlukan. Kira-kira ada yang tahu, nggak?"

Seisi kelas mengerutkan dahi. Beberapa terlihat berpikir, namun tak ada satu pun yang mengangkat tangan.

"Nggak ada yang tahu?" desak Pak Afrizal sambil terkekeh kecil. "Ini kelompok yang presentasi di depan, nggak tahu juga?"

Lihat selengkapnya