Langit biru cerah tanpa awan membentang di sabtu pagi akhir pekan ini. Cuaca seperti ini sejatinya cukup kuat membangkitkan mood siapa pun untuk beranjak keluar rumah. 'Cari angin' kalau kata orang tua zaman dulu. Atau mungkin sekedar mencari kegiatan baru demi melepas penat setelah seminggu penuh menjalankan kewajiban. Namun, meski Toni bisa melihat langit biru dari balik jendela kamarnya, tetap saja pemandangan itu gagal mengubah gundah gulana hatinya.
Gloomy.
Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan isi hatinya dari kemarin. Hujan memang belum turun. Belum. Tapi di dalam hatinya seakan digelayuti awan kelabu.
"Ton," panggil ibunya. "Lagi cerah gini masa cuma tidur-tiduran aja? Keluar sana loh, mumpung libur!"
Toni berguling sebentar dan melihat ibunya telah berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka.
"Bingung Bu mau ke mana," jawab Toni singkat seraya beranjak duduk di pinggir tempat tidur.
"Ke Tebet Eco Hub sana, Ton!" Suara ayahnya terdengar menimpali dari ruang tamu. "Jalan pagi apa olahraga apaan kek gitu!"
"Jauh, Pak!" kilah Toni.
"Ya kan bisa pake motor bapak ke sana!" balas sang ayah, kini telah berdiri di belakang ibunya.
"Udah mandi dulu sana, Ton!" ujar sang ibu, seakan tidak memberi pilihan bagi Toni untuk menolak.
Toni akhirnya bangkit dari kasurnya.
"Iya deh," ujar Toni seraya mengambil handuk yang tergantung, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Selang tiga puluh menit kemudian, Toni keluar kamarnya. Dengan mengenakan jaket sporty berwarna hitam dipadukan celana training panjang berwarna senada, ia melangkah ke ruang tamu. Tangannya segera meraih kunci motor ayahnya yang ada di atas meja ruang tamu.
"Nah, kalo gini kan udah kayak tiktoker mau ke gym, Ton!" celetuk ibunya, menyengir.
Toni hanya tersenyum kecil tanpa membalas pujian ibunya itu. Tak mau membuang waktu, ia langsung menaiki motor ayahnya yang terparkir di halaman depan.
BRRRMM!
"Pak, Bu, berangkat dulu!"
"Hati-hati, Ton!" ucap sang ayah yang duduk di kursi teras dengan hanya mengangkat kepalanya sejenak, kemudian melanjutkan scrolling layar ponselnya.
Kurang dari sepuluh menit sejak meninggalkan rumah, Toni memacu motornya memasuki jalan MT Haryono. Jalan raya yang pada hari kerja biasa disesaki antrian mobil dan motor mengular hingga Cililitan itu, kini tampak lengang di akhir pekan. Di depannya, Patung Dirgantara atau yang kerap disebut Tugu Pancoran, perlahan mulai terlihat di kejauhan. Ia mulai mengambil jalur kanan lalu berbalik arah di bawah kolong flyover.
Tak berapa lama, dari pinggir jalan mulai terlihat deretan pepohonan, bagaikan hutan belantara yang terletak di tengah kota.
Gue ... mau ngapain ya sendirian ke sini?