Gadis Culun Milik Sang Kapten

Adz
Chapter #1

Titik Awal #1

"Bagaimana menurutmu rumah ini? Cukup nyaman bukan?" tanya lelaki paruh baya berambut kecokelatan.

Seorang gadis berparas asia dengan rambut dikuncir nampak mengamati tiap sudut rumah dengan saksama. Rumah itu nampak luas dengan dinding warna krem dan perabotan kayu warna cokelat gelap.

" Ya, Ayah benar. Rumah ini nampak nyaman. Aku suka nuansa klasik yang terpancar dari rumah ini. Terutama balkon yang cukup luas," respon sang gadis muda.

"Syukurlah jika kamu menyukainya. Mulai hari ini, kita akan hidup berdua di sini," ungkap sang lelaki paruh baya sambil membelai rambut sang gadis lembut. Gadis itu hanya tersenyum kecut.

"Mari kita mulai merapikan barang-barangmu, Ratri," ajak ayah Ratri penuh semangat. Ratri mengangguk pelan.

Rasanya baru kemarin, Ratri bertemu dengan ayah kandungnya. Sejak kecil hingga usianya 14 tahun, Ratri hanya hidup berdua saja dengan ibunya di Yogyakarta tanpa tahu siapa dan dimana ayahnya.

Bagaikan takdir, saat ibu ratri di vonis terkena gagal ginjal di usianya yang baru menginjak 14 tahun, sosok ayah yang tak pernah dikenalnya mendadak muncul di ulang tahun Ratri yang ke-14. Sejak itu, mereka sepakat hidup bersama lagi.

1 tahun kemudian, setelah berjuang dengan hemodialisis, Ibu ratri tidak kuat dan pergi untuk selamanya. Wasiat terakhir ibunya adalah meminta ayah Ratri yang berkebangsaan Italia itu menjaga putri mereka dengan penuh cinta.

Tepat saat memasuki usia 16 tahun, ayah Ratri yang bernama Diego mengajaknya ikut ke negara asalnya yaitu Roma untuk melanjutkan sekolahnya agar tidak semakin larut dalam duka setelah kepergian wanita yang mereka cintai.

"Akhirnya selesai juga. Sayang, mari kita rayakan hari pertama kita di Roma dengan minum anggur! Ayah tahu bar yang bagus," ajak sang ayah penuh semangat.

"Ayah, aku masih dibawah umur. Aku belum boleh untuk minum anggur," balas Ratri.

"Ayolah! Aku tidak pernah mempermasalahkan hal kecil seperti itu. Toh, aku ikut menemanimu," ujarnya. Ratri menghela napas panjang atas sikap bebas ayahnya.

"Tidak mau. Ayah saja yang pergi minum sendiri di sana,"tolak Ratri dingin. 2 tahun, cukup bagi Diego untuk mengenal sifat keras kepala sang putri yang mirip mendiang istrinya itu. Dia hanya bisa menghela napas. Dengan raut wajah kecewa, lelaki itu memutuskan minum anggur sendiri di Enoteca Bar.

Setelah sang ayah pergi ke Bar, Ratri memutuskan untuk keluar rumah dan mencari taksi. Gadis itu hendak pergi ke suatu tempat tanpa sang ayahnya. Setelah 20 menit perjalanan, Ratri tiba di suatu tempat yang luas dengan banyak pengunjung. Tempat ini dihiasi banyak reruntuhan bangunan arkeologi.

Lihat selengkapnya