Gadis Culun Milik Sang Kapten

Adz
Chapter #2

Pertemuan Kembali

Tepat jam 5 sore, Ratri sampai di rumahnya yang berada di kawasan Balduina. Dia sudah bersiap untuk memberikan alasan kemana dia pergi kepada sang ayah. Namun, sang ayah belum pulang ke rumah. Ratri merasa bersyukur tidak perlu menghabiskan energi tambahan untuk membuat alasan kepergiannya.

Sang gadis berkacamata itu langsung bergegas untuk mandi dan menghilangkan rasa lelahnya setelah mengunjungi Palatine Hill dan kejar-kejaran dengan lelaki aneh. Selepas mandi, Ratri memasak mie instan yang dibawa dari Indonesia karena kelaparan. Karena dia baru sampai hari ini di Roma, dia belum berbelanja sayur dan lauk pauk.

Setelah mandi dan makan, Ratri langsung masuk ke kamarnya. "Ha! Hari yang sangat melelahkan. Bertemu banyak orang di Palatine Hill sungguh menghabiskan seluruh energiku,"gerutunya pelan.

Bagi ratri tiduran di kamar sambil mengecek hasil-hasil foto miliknya di kamera kodak menjadi cara terbaik untuk mengisi ulang energi sosialnya yang habis selama berkeliling palatin hill. Saat sedang asyik mengecek hasil fotonya di kamar, mendadak pintu kamar apartemennya di gedor dengan keras.

Ya no estás más a mi

lado corazón

En el alma sólo tengo soledad

Y si ya no puedo verte

Porque Dios me hizo quererte

Para hacerme sufrir más..

Suara gedoran pintu yang keras berubah menjadi nyanyian yang menyayat hati... Ratri sangat mengenal siapa pemilik suara yang agak berat dan serak itu. Dia bangun dari tempat tidurnya dengan raut wajah kesal.

"Arrgggh! Kumohon biarkan aku beristirahat dengan tenang malam ini!" Teriak Ratri kesal sebelum berjalan membuka pintu kamar apartemennya.

Di depan pintu Diego sedang mabuk. Wajahnya memerah. Tercium bau wine yang menyengat dari tubuhnya. Dia terus-terusan menyanyikan lirik lagu dengan penuh perasaan, matanya berkaca-kaca.

"Ayah! Kumohon sadarlah! Kenapa kamu mabuk sampai seperti ini!" tegur Ratri.

Namun Diego tak peduli dan terus bernyanyi. Ratri terpaksa mendorong tubuh sang ayah ke dalam kamar secara paksa karena takut menganggu tetangga apartemen mereka malam itu.

Sang gadis berkacamata itu langsung memapah tubuh sang ayah yang mabuk berat ke kamarnya. Setelah Ratri mendorong tubuh Diego ke atas kasurnya, lelaki itu langsung tertidur pulas.

"Sungguh hari yang menyebalkan untuk hari pertama hidup sebagai orang Roma. Semoga besok di sekolah semuanya berjalan lebih baik," pintanya penuh harap.

Lihat selengkapnya