*`Hujan mengguyur Desa Srikandi malam itu tanpa ampun. Air masuk dari atap seng yang bocor, menetes tepat di atas surat utang di meja kayu reyot yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Bau lembab bercampur tanah basah memenuhi rumah kecil itu.`*
*`Nayla menggigit bibirnya sampai sakit. Rasanya seperti darah. Matanya terpaku pada angka yang tertulis dengan tinta hitam tebal. Lima ratus juta rupiah. Angka itu terlalu besar untuk keluarga miskin seperti mereka. Angka itu terasa seperti fonis mati.`*
*`Ibu duduk di lantai tanah, punggungnya bersandar ke dinding bambu. Di pangkuannya ada adik Nayla yang masih SMP, tubuhnya gemetar ketakutan. Suara Ibu pecah saat bicara. “Nay... Bapak pinjem ke rentenir Jakarta. Bilangnya buat modal sawah. Tapi... tapi kalah judi. Jatuh temponya tiga hari lagi. Katanya... kalau nggak bayar, mereka bakal ambil rumah ini. Usir kita.”`*
*`Rumah ini satu-satunya tempat mereka berteduh. Dinding bambu yang dulu dibangun Bapak dengan tangannya sendiri. Sawah setengah hektar di belakang rumah yang selama ini jadi satu-satunya sumber makan mereka. Kalau rumah ini hilang, mereka nggak punya apa-apa lagi. Nggak ada tempat pulang.`*
*`Nayla masih ingat masa kecilnya. Dulu Bapak bukan pecandu judi. Dulu Bapak orang yang paling rajin kerja di sawah. Dia yang ngajarin Nayla cara nanem padi yang bener. Dia yang gendong Nayla waktu demam tinggi selama tiga hari. Dia yang janji, “Nay, kau harus sekolah tinggi. Bapak nggak mau kau hidup susah kayak Bapak.”`*
*`Lalu kapan semua berubah? Mungkin sejak Bapak kenal sama teman-teman baru di pasar kota. Sejak dia mulai sering pulang malam dengan bau alkohol. Sejak uang hasil panen habis tanpa jejak. Sekarang dia kabur ke Kalimantan, ninggalin utang segunung dan keluarga yang hancur.`*
*`Nayla anak sulung. Umurnya dua puluh tahun. Dia lulus SMA tapi nggak bisa lanjut kuliah karena nggak ada biaya. Selama ini dia kerja serabutan. Jualan kue di pasar tiap subuh. Bantuin tetangga panen. Semua uangnya ditabung buat adiknya sekolah. Sekarang semua sia-sia karena ulah satu orang.`*
*`Ketukan keras di pintu bambu membuat mereka bertiga terlonjak kaget. Tok. Tok. Tok. Bukan ketukan tamu biasa. Itu ketukan orang yang nggak bawa niat baik. Itu ketukan penagih utang.`*
*`“Buka! Dari Bapak Hendra!” teriak suara berat dari luar. Suaranya basah kuyup kena hujan, tapi penuh ancaman.`*
*`Nama Bapak Hendra cukup bikin satu desa diem seribu bahasa. Dia preman penagih utang paling kejam di Jakarta Timur. Katanya dia tangan kanan dari seseorang yang bahkan polisi nggak berani sentuh namanya.`*
*`Dengan tangan gemetar, Nayla buka pintu pelan-pelan. Di luar berdiri tiga orang pria bertubuh besar. Yang di tengah paling tinggi. Jas hitamnya mahal tapi basah kuyup. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Matanya hitam pekat, dingin, menatap Nayla dari atas sampai bawah seperti pedagang yang lagi menilai barang dagangan.`*
*`“Mana si tua bangka yang ngutang?” tanyanya datar.`*
*`“B-Bapak saya kabur, Pak,” jawab Nayla. Suaranya nyaris nggak kedengeran. Lututnya lemas. “Tapi kami... kami akan cari jalan buat bayar. Kasih kami waktu—”`*
*`“Tiga hari,” potong pria itu. Nggak ada ruang buat nawar. “Lewat dari itu, rumah ini resmi jadi milik kami. Kalian silakan di jalanan. Jelas?”`*
*`Dia nyodorin selembar foto ke arah Nayla. Di foto itu, Bapaknya duduk di meja judi dengan wajah penuh ketakutan. Di depannya ada tumpukan uang. Di belakang foto ada cap emas yang mencolok. ARKA PRATAMA GROUP.`*
*`Jantung Nayla berhenti berdetak sebentar. Arka Pratama. Nama itu bukan nama biasa. Semua orang di desa ini tahu. Dia raja bisnis gelap Jakarta. Klub malam. Pelabuhan ilegal. Rentenir. Bahkan pembunuhan. Katanya dia pernah nembak anak buahnya sendiri cuma karena telat nyetor uang seminggu.`*
*`“Tuan Arka tidak suka menunggu,” lanjut pria itu. “Tapi dia orang rasional. Kalau nggak ada uang... selalu ada cara lain buat melunasi utang.”`*
*`“Cara lain?” tanya Nayla bingung.`*