Gadis desa milik mafia kejam

Fauzani
Chapter #2

Chapter #2 : aturan di rumah



Pagi pertama Nayla di Mansion Arka Pratama dimulai tanpa matahari. 


Gorden jendela kamarnya hitam pekat dan tidak bisa dibuka dari dalam. Cahaya yang masuk hanya dari lampu LED putih di plafon yang menyala terang tanpa ampun sejak jam lima pagi. Tidak ada jam dinding. Tidak ada suara azan. Hanya ada suara dengungan AC yang dingin dan dua pasang sepatu boot penjaga di luar pintu.


Nayla bangun dengan kepala berat. Tidur semalaman di ranjang mewah itu tidak membuatnya segar. Mimpi buruk tentang Bapaknya yang berlumuran darah terus menghantui. Ia memeluk selimut putih itu erat-erat, seolah selimut bisa menjadi perisai dari kenyataan.


Tok tok. 


Ketukan pintu tiga kali, pelan tapi memerintah. 


"Masuk," kata Nayla pelan. Suaranya serak.


Pintu terbuka. Bukan Arka. Melainkan seorang wanita paruh baya dengan seragam hitam putih dan rambut disanggul rapi. Di tangannya ada nampan berisi pakaian dan sarapan.


"Selamat pagi Nona Srikandi. Saya Mbok Wati. Pengurus rumah ini," ucap wanita itu. Nadanya datar tapi tidak kasar. "Tuan Arka memerintahkan saya untuk mengurus kebutuhan Nona selama setahun ke depan."


Nayla duduk dengan kikuk di tepi ranjang. "Saya... tidak butuh banyak. Terima kasih."


Mbok Wati meletakkan nampan di meja. Isinya bubur ayam, teh hangat, dan roti. Di sampingnya ada satu set pakaian. Baju kaos lengan panjang berwarna abu-abu polos dan celana panjang longgar. Tidak seksi. Tidak terbuka. Tapi bahannya mahal.


"Ini pakaian yang Tuan pilih untuk Nona. Aturannya sederhana," lanjut Mbok Wati sambil menatap Nayla lurus. "Pertama, Nona tidak boleh keluar dari mansion tanpa izin Tuan. Kedua, Nona tidak boleh masuk ke lantai tiga. Itu wilayah pribadi Tuan. Ketiga, Nona wajib makan tiga kali sehari dan ada di kamar saat Tuan memanggil. Keempat, jangan pernah bertanya tentang bisnis Tuan. Kelima, dan yang paling penting. Jangan membuat masalah."


Nayla mengangguk cepat. Aturan itu terdengar seperti penjara. Tapi setidaknya tidak ada aturan yang membuatnya harus melayani Arka di ranjang. Untuk sekarang.


"Pak Arka... dia di mana?" tanya Nayla hati-hati.


"Sudah pergi sejak subuh. Tuan Arka jarang di rumah siang hari," jawab Mbok Wati. "Nona punya waktu sampai malam untuk membiasakan diri. Saya akan antar Nona keliling mansion setelah sarapan. Kecuali lantai tiga."


Nayla makan dengan lahap. Sudah tiga hari ia makan tidak teratur karena memikirkan utang. Bubur itu rasanya seperti surga. Setelah selesai, Mbok Wati mengajaknya turun.


Mansion Arka Pratama ternyata jauh lebih besar dari yang ia kira malam tadi. Ada ruang tamu sebesar aula, kolam renang indoor, ruang gym, perpustakaan, dan dapur yang lebih besar dari rumahnya di desa. Semua serba hitam, putih, dan abu-abu. Tidak ada warna cerah. Tidak ada foto keluarga. Rumah ini terasa seperti museum orang yang tidak punya masa lalu.


"Kenapa semua warnanya gelap, Mbok?" tanya Nayla tanpa sadar.


Mbok Wati berhenti berjalan. "Karena Tuan tidak suka warna. Warna mengingatkan dia pada sesuatu yang sudah hilang."


Nayla ingin bertanya lebih lanjut, tapi tatapan Mbok Wati langsung membuatnya diam. Ia ingat aturan ketiga. Jangan bertanya.


Siangnya Nayla menghabiskan waktu di perpustakaan. Ia mencoba membaca buku, tapi pikirannya melayang ke rumah di desa. Bagaimana kabar Ibu dan adiknya? Apakah Bapak sudah sadar? Apakah mereka aman? Ia tidak punya ponsel. Ponsel lamanya disita saat tiba di Jakarta.

Lihat selengkapnya