Jam lima pagi lagi. Lampu LED putih menyala tanpa ampun.
Hari kedua Nayla di mansion dimulai dengan pelajaran. Bukan pelajaran matematika atau sejarah. Melainkan pelajaran jadi boneka Arka Pratama.
Mbok Wati membangunkan Nayla tepat jam lima tiga puluh. Di tangannya ada dua buku tebal, satu set alat tulis, dan gaun sederhana warna krem.
"Tuan Arka menunggu di ruang belajar jam enam tepat. Jangan terlambat sedetik pun," kata Mbok Wati. "Itu aturan nomor enam yang belum saya sebutkan kemarin."
Nayla menguap. Tidurnya cuma tiga jam karena semalaman membaca buku tata krama. Ia mandi cepat, mengenakan gaun krem itu, dan mengikat rambutnya rapi. Wajahnya pucat tanpa bedak. Ia memang tidak pernah pakai kosmetik di desa.
Jam enam kurang dua menit, Nayla sudah duduk di ruang belajar. Ruangan itu kecil, tapi dipenuhi rak buku sampai plafon. Di tengah ada meja kayu besar dan dua kursi. Satu untuk guru, satu untuk murid.
Pintu terbuka tepat jam enam. Arka masuk tanpa senyum. Ia pakai kemeja putih dan jas hitam. Rambutnya masih basah, baru keluar dari kamar mandi.
"Duduk tegak. Punggung jangan membungkuk," perintahnya langsung.
Nayla buru-buru meluruskan punggung.
"Aku gurumu selama sebulan ke depan," lanjut Arka. Ia duduk di hadapannya. "Tujuanku cuma satu. Mengubah gadis desa yang gagap bicara ini jadi wanita yang tidak mempermalukanku di depan tamu."
Sakit. Tapi Nayla mengangguk. "Baik, Tuan."
"Mulai sekarang panggil aku Tuan Arka. Jangan Tuan saja. Itu terlalu umum."
"Baik, Tuan Arka."
Pelajaran pertama adalah etika makan. Arka meletakkan satu set alat makan lengkap di depannya. Sendok, garpu, pisau, sendok kecil, garpu salad.
"Kau tahu bedanya?" tanya Arka.
Nayla menggeleng. Di rumahnya cuma ada satu sendok dan satu garpu.
Arka menjelaskan satu persatu. Nada bicaranya datar, tapi detail. Ia tidak marah saat Nayla salah. Ia hanya mengulang. Lagi dan lagi sampai Nayla hafal.
"Kenapa Tuan Arka repot-repot ngajarin saya hal sekecil ini?" tanya Nayla saat istirahat.
Arka menatapnya. "Karena dalam tiga minggu, aku akan bawa kau ke gala amal. Semua orang penting Jakarta akan ada di sana. Dan aku tidak mau mereka berbisik, lihat itu, Arka Pratama bawa pembantu."
Nayla menunduk. Jadi itu alasannya. Ia cuma aksesoris.
Pelajaran kedua adalah cara bicara. Arka menyuruhnya membaca koran ekonomi dengan suara lantang. Setiap ia salah mengucap kata, Arka langsung menegur.
"Bukan BANK, tapi BANK. Lidahmu jangan terlalu desa," katanya.
Nayla kesal. Tapi ia tahan. Ia mengulang sampai benar.
Siang hari ia diajar jalan. Pakai high heels. Ia hampir jatuh tiga kali. Mbok Wati yang menahannya.
"Nona, bayangkan ada benang yang menarik kepala Nona ke atas," ajar Mbok Wati. "Dada tegak, dagu sedikit naik."
Nayla latihan sampai kakinya lecet. Tapi ia tidak mengeluh.
Malam hari, Arka mengetesnya lagi di ruang makan. Kali ini ia harus makan malam dengan sempurna. Tidak boleh bersuara saat mengunyah. Tidak boleh menyendok terlalu banyak. Tidak boleh minum sebelum Arka.