Gadis desa milik mafia kejam

Fauzani
Chapter #4

Chapter#4 : gala malam pertama


Tiga minggu berlalu sejak Nayla menginjakkan kaki di Mansion Arka Pratama. 


Hari ini adalah hari yang ditakutinya sekaligus dinantikannya. Gala amal di Hotel Grand Royal Jakarta. Acara paling bergengsi yang dihadiri semua pejabat, pengusaha, dan mafia berdasi di kota ini.


"Berdiri tegak. Senyum tipis. Jangan banyak bicara," kata Arka sambil merapikan dasinya di depan cermin. 


Nayla mengangguk gugup. Gaun hitam yang ia pakai tiga hari lalu kini sudah pas di badan. Rambutnya disanggul rendah oleh stylist yang dipanggil khusus. Makeup-nya natural, tidak menor. Tapi cukup membuatnya terlihat seperti nyonya bangsawan.


"Kau siap?" tanya Arka. Matanya menelusuri Nayla dari atas sampai bawah.


"Siap, Arka," jawab Nayla. Sudah seminggu ia terbiasa memanggilnya tanpa Tuan saat berdua.


Arka mendekat. Ia mengulurkan tangannya. "Gandeng lenganku. Senyum. Dan ingat. Apapun yang terjadi malam ini, jangan lepaskan tanganku."


Nayla menggandeng lengan Arka. Tangannya dingin. Tapi anehnya, tangannya tidak gemetar.


Mobil hitam mengkilap membawa mereka ke hotel. Karpet merah. Kamera wartawan. Lampu flash yang menyilaukan.


"Nona, senyum ke sini!" 

"Tuan Arka, siapa wanita di samping Anda?" 


Arka tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Nayla lebih erat dan berjalan masuk. 


Di dalam ballroom, semuanya emas dan kristal. Ratusan orang dengan pakaian mahal. Nayla merasa seperti gadis desa yang nyasar ke istana.


"Tenang," bisik Arka di telinganya. "Kau tidak lebih rendah dari mereka. Kau milikku."


Kalimat itu seharusnya menakutkan. Tapi malam ini, kalimat itu justru membuatnya tenang.


Arka memperkenalkannya satu persatu. "Ini Nayla. Istri kontrak saya." 


Istri kontrak. Dua kata itu ditusukkan ke dadanya setiap kali Arka mengucapkannya. Tapi ia tetap tersenyum. 


Beberapa wanita memandangnya dengan iri. Beberapa pria memandangnya dengan penasaran. 


"Nayla cantik sekali. Dari keluarga mana?" tanya seorang ibu sosialita.


"Dari desa," jawab Arka cepat sebelum Nayla sempat bicara. "Dan aku tidak suka orang bertanya terlalu banyak tentang milikku."


Nada bicaranya dingin. Tapi tangannya mengusap punggung Nayla pelan. Seolah bilang, aku di sini.


Makan malam dimulai. Nayla menerapkan semua pelajaran Arka. Duduk tegak. Makan perlahan. Bicara seperlunya. 


Ia berhasil. Tidak ada yang berbisik menjelek-jelekkan. 


Tengah acara, seorang pria mendekat. Tinggi, berkepala plontos, dengan tato di leher. 


"Arka. Lama tidak ketemu," kata pria itu. Senyumnya tidak sampai ke mata. 


"Revan," jawab Arka. Nada suaranya langsung turun lima derajat. 


"Siapa gadis cantik ini? Selingkuhan baru?" tanya Revan sambil menatap Nayla dari atas sampai bawah. 


Nayla meremas gaunnya. 


"Istri saya," jawab Arka dingin. "Jaga matamu, Revan."


Revan tertawa. "Istri kontrak, kan? Aku dengar kabarnya. Gadis desa buat bayar utang. Murah sekali, Arka."


Tamparan. Tanpa suara. 


Nayla ingin menangis. Tapi ia menahan. 


Arka melangkah maju. Aura di sekitarnya langsung berubah. Dingin. Mematikan. 


"Ulangi sekali lagi," bisik Arka. Suaranya pelan, tapi semua orang di sekitar mereka mendadak diam. 


Revan mundur selangkah. "Hanya bercanda, Arka. Santai."


"Jangan pernah bercanda tentang dia lagi. Atau kau akan kehilangan gigi terakhirmu," kata Arka. 

Lihat selengkapnya