Gadis desa milik mafia kejam

Fauzani
Chapter #5

Chapter#5 : retak di tembok es


Sejak malam gala itu, ada yang berubah di mansion. 


Kecil. Halus. Tapi Nayla merasakannya. 


Arka masih dingin. Masih memerintah. Masih bilang kau milikku. Tapi... tatapannya beda. 


Tidak lagi seperti melihat dokumen. Lebih seperti... melihat manusia. 


"Dari hari ini, kau ikut aku ke kantor tiap hari," kata Arka di meja sarapan. 


Nayla hampir tersedak roti. "Ke kantor, Arka?"


"Ya. Kau butuh tahu cara dunia ini bekerja. Biar kau tidak kaget kalau suatu hari aku mati," jawab Arka datar. 


Nayla langsung menutup mulutnya. "Jangan ngomong gitu."


Arka mengangkat alis. "Kenapa? Takut?"


"Karena... karena kontraknya belum selesai," jawab Nayla cepat. Hatinya berdebar. 


Arka menatapnya lama. Lalu senyum tipis. Tipis sekali. Sampai hampir tidak kelihatan. "Kerja bagus." 


Itu pertama kalinya Nayla lihat Arka senyum. 


Di kantor, Nayla duduk di ruang kerja Arka. Ia membaca, mencatat, kadang membantu mengarsipkan dokumen. 


Arka bekerja dengan fokus. Tidak banyak bicara. Tapi sesekali ia melempar permen ke meja Nayla. 


"Kau suka manis, kan?" katanya tanpa menoleh. 


Nayla kaget. Ia pernah bilang sekali, saat makan malam, bahwa ia suka permen jahe dari desanya. Arka ingat. 


"Terima kasih, Arka," bisiknya. 


Suatu sore, kantor dapat kiriman kue. Kue lapis legit. 


Nayla menatapnya lama. "Ini... kue dari desa saya." 


Arka memperhatikan. "Mau?" 


Nayla mengangguk. Arka memotong satu potong dan menyerahkannya. 


Nayla makan. Matanya berkaca-kaca. Rasanya sama persis seperti kue yang dulu ia jual di pasar. 


"Enak?" tanya Arka. 


"Enak banget," jawab Nayla sambil menahan tangis. "Makasih, Arka." 


Arka tidak menjawab. Ia hanya menatapnya. Lama. 


Minggu keenam, Mbok Wati sakit. Demam tinggi. 


Nayla yang biasanya diajar, kini yang mengurus rumah. Ia masak. Bersih-bersih. Mengurus penjaga. 


Arka pulang dan melihat meja makan sudah penuh makanan. 


"Kau yang masak semua ini?" tanyanya. 


Nayla gugup. "Iya. Mbok Wati sakit. Saya... saya belajar dari dia." 


Arka duduk. Mencicipi. Diam. 


"Enak," katanya singkat. 


Nayla senyum lebar. Pujian dari Arka rasanya lebih mahal dari kalung berlian. 


Malam itu, Arka mengetuk pintu kamarnya. 


"Nayla. Keluar sebentar." 


Nayla ikut. Arka membawanya ke balkon lantai dua. Langit Jakarta penuh bintang. Jarang-jarang terlihat. 


"Kenapa kita di sini?" tanya Nayla. 


"Karena kau terlihat capek," jawab Arka. "Istirahat sebentar." 


Mereka diam. Hanya suara angin. 


"Kau mirip dia," kata Arka tiba-tiba. 


Nayla menoleh. "Siapa?" 


"Seseorang yang dulu penting buatku," jawab Arka. Suaranya berat. "Dia juga dari desa. Dia juga suka masak. Dia juga punya mata yang... tidak pernah berbohong." 


Nayla diam. Jadi ia cuma pengganti. 

Lihat selengkapnya