Pagi setelah ultah Nayla terasa aneh.
Kalung daun padi masih melingkar di lehernya. Dingin. Berat. Tapi anehnya menenangkan.
Nayla turun ke meja makan jam enam tepat. Seperti biasa. Tapi Arka belum ada.
"Arka belum turun, Mbok?" tanya Nayla sambil menuang teh.
Mbok Wati menggeleng. "Tuan belum keluar dari ruang kerja sejak jam tiga pagi, Nona."
Nayla mengerut. Jam tiga pagi? Berarti Arka tidak tidur semalaman.
Ia membawa nampan berisi roti dan kopi ke lantai tiga. Ruangan terlarang. Ruang kerja Arka.
Tak ada yang boleh masuk tanpa izin. Aturan nomor satu.
Tapi tangannya gemetar. Ia takut Arka pingsan di dalam. Luka lengannya belum sembuh total.
Tok tok.
"Tuan Arka?" suaranya pelan.
Tidak ada jawaban.
Nayla menelan ludah. "Saya bawa sarapan, Tuan. Boleh saya masuk?"
Masih diam.
Jantungnya berdebar kencang. Ia memutar gagang pintu pelan. Tidak dikunci.
Celah pintu terbuka. Ruangan itu gelap. Hanya lampu meja yang menyala. Asap rokok tipis memenuhi udara.
Arka duduk di kursi kulit. Jasnya dilempar ke lantai. Kemeja putihnya berantakan. Dasi terbuka. Matanya merah. Tidak tidur.
Di depannya, puluhan map terbuka. Foto-foto. Dokumen. Dan satu foto besar: wajah seorang wanita yang tersenyum. Wanita itu... mirip Nayla.
"Keluar," kata Arka tanpa menoleh. Suaranya serak.
Nayla membeku. "Tuan... Tuan belum makan sejak semalam."
"Keluar. Sekarang," ulang Arka. Kali ini lebih dingin.
Nayla tidak bergerak. "Luka Tuan belum diobati."
Arka akhirnya menoleh. Matanya tajam. Marah. Tapi di baliknya ada sesuatu yang retak. Sakit.
"Siapa suruh kau masuk?" bentaknya.
Nayla mundur selangkah. Air matanya nyaris jatuh. "Saya... saya khawatir."
Arka berdiri. Ia berjalan mendekat. Napasnya berat. Bau alkohol samar.
"Kau tidak perlu khawatir padaku, Nayla," katanya. Suaranya rendah. "Aku monster. Monster tidak butuh dikasihani."
Nayla mengangkat wajah. "Kalau Tuan monster, kenapa Tuan kasih saya kalung semalam? Kenapa Tuan ingat saya suka permen jahe?"
Arka terdiam. Rahangnya mengeras.
"Kau... kau tidak seharusnya ada di sini," bisiknya. "Kau tidak seharusnya membuatku ingat."
"Ingat siapa, Arka?" tanya Nayla berani.
Arka tidak jawab. Ia malah memegang bahu Nayla. Kuat. "Pergi. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali berdua."
Nayla menatapnya. Dekat sekali. Ia bisa lihat luka di lengan Arka yang belum diperban. Ia bisa lihat mata Arka yang... hancur.
"Arka," panggilnya pelan. "Siapa nama wanita di foto itu?"
Tubuh Arka menegang. "Jangan tanya."
"Namanya?" Nayla tetap bertahan.
"Alina," jawab Arka akhirnya. Suaranya pecah. "Namanya Alina."
Nayla terdiam. Jadi benar. Ia hanya pengganti.
Air matanya jatuh. Tapi ia tidak menghapusnya. "Saya bukan Alina, Arka."
Arka menatapnya. Lama. Sangat lama. Lalu tangannya yang mencengkeram bahu Nayla melemah.
"Aku tahu," bisiknya. "Dan itu yang membuatku takut."