Udara di dalam mobil masih dingin, tapi dada Nayla rasanya terbakar.
Kalimatnya sendiri masih menggema di kepalanya. `Saya... saya sudah jatuh cinta, Arka.`
Bodoh. Bodoh sekali.
Ia menggigit bibir bawah sampai terasa perih. Menatap punggung Arka yang berjalan masuk ke gedung kantor tanpa menoleh sedetik pun.
Tembok es itu. Retak, tapi dibangunnya lagi dengan tangan sendiri. Lebih tinggi. Lebih tebal.
"Pulang, Nona," kata Pak Dimas, sopir Arka, pelan.
Nayla mengangguk. Ia tidak punya suara.
Sepanjang perjalanan, ia memeluk dirinya sendiri. Kalung daun padi di lehernya terasa menyesakkan. Dulu menenangkan. Sekarang seperti jerat.
Sampai di rumah besar itu, ia langsung mengunci diri di kamar.
Mbok Wati mengetuk pintu. "Nona, makan malam?"
"Tidak lapar, Mbok," jawabnya. Suaranya serak.
Ia rebah di kasur. Menatap langit-langit.
`Arka`. Nama itu sekarang sakit kalau diucap.
Ia ingat cara Arka menghapus air matanya. Cara Arka bilang `Aku percaya padamu`. Cara Arka menempelkan tangan ke dahinya waktu demam.
Itu bukan kepemilikan. Itu bukan kontrak.
Tapi Arka bilang `Kau harus pergi. Demi keselamatanmu`.
Kenapa? Siapa yang mengancam? Revan? Atau masa lalunya sendiri? Nama `Alina` itu.
Nayla memejamkan mata. Air mata jatuh lagi. Kali ini ia tidak menahannya.
`Aku sudah kalah, Arka`.
---
Jam sebelas malam.
Nayla belum tidur. Ia duduk di balkon kamar. Angin malam menerpa wajahnya.
Pintu kamarnya terbuka pelan.
Nayla menoleh cepat. Arka berdiri di ambang pintu.
Ia masih pakai kemeja kantor. Tapi dasinya sudah hilang. Lengan bajunya digulung. Matanya... lelah. Bukan marah.
Nayla langsung berdiri. "Tuan?"
Arka tidak menjawab. Ia melangkah masuk. Menutup pintu pelan.
Jantung Nayla berdebar seperti mau copot.
"Kenapa bilang hal bodoh tadi di mobil?" tanya Arka. Suaranya rendah. Hampir berbisik.
Nayla mundur selangkah. "Saya... saya minta maaf."
"Minta maaf?" Arka tertawa. Pendek. Tanpa humor. "Kau pikir itu cukup, Nayla?"
Ia berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat Nayla mundur sampai punggungnya mentok ke tiang balkon.
Udara malam jadi lebih dingin. Tapi tubuh Arka memancarkan panas. Panas amarah. Panas sesuatu yang lain.
"Ucapkan sekali lagi," kata Arka. Matanya menatap tajam ke mata Nayla.
"Apa?" Nayla gemetar.
"Kalimat itu. Ulangi."
Nayla menggeleng. Air matanya menggenang lagi. "Jangan paksa saya, Arka."
Arka mengangkat tangannya. Jari-jarinya menyentuh pipi Nayla. Kasar, tapi hati-hati.
"Kau bilang kau jatuh cinta," katanya. "Kau tahu konsekuensinya?"
Nayla menutup mata. "Saya tahu. Saya tidak akan minta apa-apa. Saya... saya akan pergi setelah kontrak selesai. Janji."
Tangan Arka menegang di pipinya.
"Jangan janji hal yang tidak kau mau," bisiknya.
Nayla membuka mata. Kaget. "Apa maksud Tuan?"
Arka tidak jawab. Ia malah menunduk. Dahinya bersandar di dahi Nayla.
Napasnya berat. Panas.
"Aku seharusnya mendorongmu pergi malam itu di ruang kerja," katanya. "Saat kau bilang kau bukan Alina. Saat kau obati lukaku."
Nayla menahan napas.
"Tapi aku tidak bisa," lanjut Arka. Suaranya pecah. "Karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun... aku merasa hidup."