Tiga hari setelah pengakuan di balkon, suasana rumah jadi aneh.
Di luar: Arka tetap Tuan Arka. Dingin. Kejam. Semua anak buahnya tunduk.
Di dalam: Arka yang sama sekarang akan memeriksa suhu air mandi Nayla. `Keburu dingin`.
Nayla bingung. Tapi ia suka.
Sampai malam itu.
---
Jam 23:17.
Nayla baru selesai mandi. Rambutnya masih basah. Ia pakai daster biru muda. Hadiah Arka.
Tok tok.
Bukan ketukan pelan Arka. Ini ketukan keras. Panik.
"Nona! Buka!" Suara Pak Dimas.
Nayla buru-buru membuka pintu. "Ada apa, Pak?"
Pak Dimas pucat. "Tuan minta Nona ke ruang bawah tanah. Sekarang. Bawa dokumen penting saja."
Jantung Nayla jatuh. "Ada apa?"
"Revan nyerang. Gudang Marganda dibakar. Tuan sekarang di sana."
Nayla tidak sempat ganti baju. Ia hanya ambil ponsel dan kalung daun padi. Itu saja.
Ruang bawah tanah rumah itu bunker. Tebal. Kedap suara. Pintu baja.
Di dalamnya sudah ada 4 anak buah Arka bersenjata lengkap.
"Nona di sini sampai Tuan datang," kata Pak Dimas. "Jangan keluar apapun yang terjadi."
Pintu baja tertutup. `BUM`.
Nayla sendirian.
Ia duduk di kursi. Tangannya dingin.
`Arka di gudang Marganda. Sendiri. Menghadapi Revan`.
Ia memejamkan mata. Berdoa. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa.
---
Jam 01:02.
Bunyi tembakan. Dari atas. Jelas. Nyata.
`DOR DOR DOR`
Anak buah di dalam bunker langsung siaga. Senjata diangkat.
Nayla menutup mulut. Air matanya jatuh tanpa suara.
`Arka...`
Jam 01:30.
Semuanya sunyi. Terlalu sunyi.
Pintu baja bergetar. Ketukan.
"Pak Dimas?" tanya Nayla pelan.
Tidak ada jawaban.
Ketukan lagi. Lebih keras.
"Nona Nayla. Buka pintunya. Ini saya, Revan," suara laki-laki. Manis. Berbahaya.
Nayla membeku.
Darahnya dingin.
"Jangan buka, Nona," bisik salah satu anak buah.
Revan tertawa dari luar. "Arka sudah mati, Nona. Gudangnya terbakar. Anak buahnya habis. Sekarang giliran kau."
Nayla menggeleng. "Bohong."
"Oh?" Revan ketawa lagi. "Lihat ini."
Ada suara gesekan. Lalu `thud`. Sesuatu jatuh di depan pintu baja.
Anak buah mengintip dari kamera kecil. Wajahnya langsung pucat.
"Apa?" tanya Nayla.
"Jas Tuan," kata anak buah itu. Suaranya bergetar. "Penuh darah."
Dunia Nayla gelap.
`Tidak. Tidak mungkin`.
Ia jatuh terduduk. "Arka..."
Revan di luar berteriak. "Kau punya 1 menit, Nona. Buka pintu, atau aku bakar bunker ini. Sama seperti aku bakar gudang Arka."
Nayla tidak bisa bernapas.
`Arka mati? Tidak. Dia janji. Tiga bulan lagi`.
Ia berdiri. Kakinya lemas.
"Nona jangan!" Anak buah menahan.
Tapi Nayla mendorongnya. "Lepaskan saya."
Ia berjalan ke pintu. Tangannya di gagang pintu.
`Kalau Arka sudah mati, untuk apa aku hidup?`