Pagi setelah lamaran di kebun, Nayla bangun dengan perasaan aneh.
Ringan.
Selama 8 bulan di rumah ini, ia tidur dengan satu mata terbuka. Takut. Was-was.
Sekarang? Ia tidur nyenyak di dada Arka.
Arka. Suaminya. Bukan Tuan. Bukan lagi.
---
Jam 7 pagi.
Nayla membuka mata. Arka sudah bangun. Menatapnya.
"Tidak kerja?" tanya Nayla. Suaranya serak karena tidur.
"Libur," jawab Arka. Jempolnya mengusap pipi Nayla. "Hari ini milik kita."
Nayla tersipu. "Tuan... maksudku, Arka."
Arka mengerut. "Jangan panggil Tuan lagi."
"Lalu panggil apa?"
Arka berpikir. Lalu tersenyum. "Arka. Sayang. Terserah. Asal bukan Tuan."
Nayla memukul dadanya pelan. "Genit."
Arka tertawa. Nyata. Dari perut.
Suara itu... Nayla akan ingat seumur hidup.
---
Minggu kedelapan belas. `Masa Damai`.
Rumah besar itu berubah.
Tidak ada lagi anak buah jaga di setiap sudut dengan muka tegang.
Tidak ada lagi Nayla lapor setiap mau ke dapur.
Sekarang, Arka yang ikut ke dapur.
"Ajari aku," katanya.
"Masak?" Nayla kaget.
"Sup ayam. Yang kau masak waktu aku demam."
Hasilnya? Sup gosong. Dapur berantakan. Tapi mereka ketawa sampai sakit perut.
Mbok Wati cuma geleng-geleng dari jauh. "Akhirnya, Nona."
Arka juga mulai bawa Nayla keluar.
Bukan ke pesta mafia. Tapi ke tempat normal.
Pasar tradisional. Nayla ketagihan beli keripik. Arka bayar.
Taman kota. Mereka duduk di bangku. Arka pegang tangan Nayla. Tidak peduli orang lihat.
"Anak buahmu tidak protes?" tanya Nayla.
"Protes apa?" Arka mengangkat alis. "Bosnya bahagia. Mereka dapat bonus."
Nayla tertawa.
Minggu kesembilan belas.
Arka bawa Nayla ke desanya.
Perjalanan 6 jam.
Warga desa kaget. `Gadis yang dulu miskin, pulang naik mobil mewah sama suami ganteng`.
Ibu Nayla menangis memeluknya.
"Anakku... kau kurus."
"Sehat, Bu," kata Nayla. Ia menoleh ke Arka. "Ini... Arka. Suami saya."
Arka membungkuk. Hormat. "Maaf lama tidak kenalkan diri, Bu."
Ibu Nayla terkejut. Mafia kejam? Ini sopan sekali.
Mereka menginap 3 hari.
Arka bantu benerin atap rumah Ibu. Angkat beras. Main sama anak-anak desa.
Malam terakhir, di bawah langit penuh bintang desa, Arka memegang tangan Nayla.
"Kau rindu tempat ini?" tanyanya.
Nayla mengangguk. "Iya."
"Maka kita akan pulang ke sini tiap tahun," kata Arka. "Janji."