Gadis desa milik mafia kejam

Fauzani
Chapter #10

Chapter#10 : ijab kabul dan rumah baru


Pagi itu langit Jakarta mendung. Tapi hati Nayla cerah. 


Hari ini. 


Hari ia resmi jadi `Nayla Adara Maheswara`. Bukan lagi `Gadis Desa Milik Mafia`. 


Tapi `Istri Mafia`. Dengan cinta. 


---


Jam 8 pagi. Mansion Arka. 


Nayla duduk di depan rias. Penata rias dari salon mahal. 


Kebaya putihnya sudah dipakai. Sederhana. Bordir daun padi di ujung lengan. Permintaan Arka. 


Kalung daun padi kontrak sudah dilepas. Diganti kalung mutiara kecil. Hadiah Arka semalam. 


`Untuk hari ini. Untuk selamanya`. 


Mbok Wati duduk di sampingnya. Matanya sembab. Tapi sudah membaik. 


"Cantik sekali, Nona," bisik Mbok. "Ibu di desa pasti bangga." 


Nayla menggenggam tangan Mbok. "Terima kasih sudah jagain saya, Mbok." 


Pintu diketuk. 


"5 menit lagi, Nona," kata Pak Dimas. 


Nayla menarik napas dalam. 


---


Jam 9 tepat. Akad nikah. 


Tidak di masjid besar. Tidak di hotel. 


Di ruang tamu mansion. Didekorasi bunga putih. Cuma 20 orang. Keluarga, anak buah paling setia, pendeta. 


Arka masuk. Jas hitam. Dasi putih. Rambutnya klimis. 


Tapi matanya... cuma untuk Nayla. 


Nayla diantar Ibu dan Pak Dimas. 


Saat ia berdiri di depan Arka, dunia jadi sunyi. 


Pendeta mulai. "Arka Maheswara, apakah kau siap..." 


"Iya," jawab Arka. Cepat. Tegas. Seolah sudah nunggu 5 tahun. 


"Nayla Adara, apakah kau siap..." 


"Iya," jawab Nayla. Suaranya bergetar. 


"Ijab Kabul," kata penghulu. 


Arka menatap mata Nayla. "Saya terima nikahnya Nayla Adara binti... dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin emas, dibayar tunai." 


Suaranya berat. Pasti. 


"Sah," kata penghulu. 


`SAH`. 


Tepuk tangan. Tangis Ibu. 


Arka menarik Nayla. Mencium keningnya di depan semua orang. 


"Bismillah," bisiknya. "Istriku." 


Nayla menangis. Tapi senyum. 


Kalung kontrak diganti cincin nikah. Jerat diganti janji. 


---


Resepsi kecil. Makan siang. 


Anak buah Arka semua pakai batik. Tidak ada senjata. Tidak ada muka garang. 


Mereka salim ke Nayla. "Selamat, Nyonya." 


Nayla canggung. "Panggil Nayla aja." 


"Tidak bisa, Nyonya," kata salah satu. Serius. "Aturan bos." 


Arka tertawa. Merangkul pinggang Nayla. "Ikutin aja. Dia bos sekarang." 


Semua ketawa. 


Minggu kedua puluh tiga dimulai dengan tawa, bukan darah. 


---


Jam 3 sore. 


Arka menggandeng tangan Nayla. "Ayo." 


Lihat selengkapnya