Malam pertama setelah akad seharusnya terasa paling tenang dalam hidup Nayla.
Tapi malam itu justru paling berisik. Bukan karena suara. Tapi karena pikiran.
Rumah kayu di pinggir sawah itu kecil. Cuma dua kamar, ruang tamu, dan dapur terbuka. Tapi bagi Nayla, itu istana. Karena di dalamnya ada Arka. Suaminya. Bukan lagi Tuan Mafia. Tapi Suami.
Arka berbaring di sampingnya. Tidak tidur. Matanya menatap plafon kayu yang retak-retak kena angin malam.
"Nggak bisa tidur?" bisik Nayla.
Arka menoleh. Tangan besarnya menarik Nayla lebih dekat. "Bisa. Kalau kau diem."
Nayla memukul pelan dadanya. "Jahat."
Arka ketawa kecil. Napasnya hangat di rambut Nayla. "Maaf, Nyonya."
Mereka diam sebentar. Cuma ada suara jangkrik dan angin lewat sela bambu.
"Nayla," panggil Arka tiba-tiba.
"Hmm?"
"Terima kasih."
Nayla mendongak. Bingung. "Untuk apa?"
"Karena mau sama aku. Beneran. Bukan karena kontrak."
Dada Nayla hangat. Ia mengusap rahang Arka yang keras itu. "Aku juga. Terima kasih udah ngebangunin rumah ini. Terima kasih udah milih aku."
Arka mencium keningnya. Lama. "Kita punya waktu, ya?"
"Seumur hidup," jawab Nayla.
Arka senyum. Untuk pertama kalinya, senyumnya tidak ada beban.
Tapi 10 menit kemudian, senyum itu hilang.
Hp Arka di meja getar.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Arka tidak langsung ambil. Ia menatap hp itu seperti menatap bom.
"Angkat," kata Nayla.
Arka menghela napas. Duduk. Ambil hp.
Pak Dimas.
"Ya," jawabnya singkat.
Di seberang, suara Pak Dimas tegang. "Bos, kita ada masalah."
"Apa?"
"CCTV pelabuhan Belawan. Jam 6 sore tadi. Ada orang masuk pakai paspor Singapura. Nama palsu. Tapi mukanya..." Pak Dimas diam sedetik. "Mirip Revan, Bos."
Darah Nayla langsung dingin meski dia tidak denger isi teleponnya. Karena lihat rahang Arka yang langsung mengeras.
"Dion," kata Arka. Bukan tanya. Itu pernyataan.
"Iya, Bos. Dion Maheswara. Adik Revan yang kabur ke Singapura 3 tahun lalu."
Arka menutup mata. "Dia bawa berapa orang?"
"4 orang. Semua mantan anak buah Revan. Dendam pribadi, Bos. Mereka bilang mau 'ambil alih' semua yang Revan punya. Termasuk... Nyonya."
Nayla menutup mulut.
Arka menoleh ke Nayla. Matanya minta maaf. "Iya. Dia sebut nama Nyonya."
Tut. Telepon dimatikan.
Hening.
"Nayla," kata Arka pelan.
Nayla menggeleng. Ia sudah duduk. Selimut ditarik ke dada. "Jelasin."
Arka duduk di tepi ranjang. Punggungnya kaku. "Revan punya adik. Namanya Dion. 27 tahun. Lebih gila dari Revan. Dulu Revan masih punya batas. Dion enggak. 3 tahun lalu dia kabur ke Singapura karena mau bunuh aku. Gagal. Revan nutupin dia. Sekarang Revan mati... dia balik."
"Untuk balas dendam?"
"Untuk ambil semua," kata Arka. "Bisnis. Nama Maheswara. Dan kau."
Nayla tertawa. Tapi bukan karena lucu. "Aku? Aku cuma gadis desa, Arka."
"Kau Istri Arka Maheswara," kata Arka. Tajam. "Itu cukup buat jadi target."
Nayla memeluk lutut. Takut. Tapi ia tahan. "Terus kita apa? Lari?"
"Tidak," kata Arka cepat. "Kita lawan."