Gadis desa milik mafia kejam

Fauzani
Chapter #12

Chapter#12 : janji di ujung senapan


Jam 2 lewat 17 menit.


Hujan turun deras. Menampar genteng rumah kayu seperti ribuan tangan yang marah.


Nayla belum tidur. Dia duduk di lantai, punggung bersandar ranjang. Selimut dipeluk. Matanya menatap pintu. 


Arka belum balik. 


Sudah 6 jam sejak dia keluar ngejar Dion. 


Pak Dimas duduk di ruang tamu. Merokok. Tapi tidak nyala. Cuma digenggam. Tanda dia juga cemas. 


"Nyonya, istirahat dulu," kata Pak Dimas pelan. 


Nayla menggeleng. "Tidak. Aku nunggu dia."


Ibu dan Mbok Wati juga belum tidur. Duduk di dapur. Saling genggam tangan. 


Suasana rumah itu berat. Seperti mau pecah. 


BRUK! 


Pintu belakang dibanting kebuka. 


Semua orang langsung berdiri. 


Arka. 


Basah kuyup. Dari kepala sampai kaki lumpur. Baju hitamnya sobek di lengan kanan. Darah. Bukan cuma air hujan. 


"ARKA!" teriak Nayla. 


Dia lari. Langsung nabrak pelukan Arka. 


Arka menangkapnya. Kuat. Tapi tubuhnya goyah. Napasnya berat. 


"Aku... balik," bisiknya di telinga Nayla. "Seperti janji." 


Nayla menangis. Memukul dadanya. "Idiot! Kau janji gak apa-apa! Darah ini apa!" 


"Goresan," kata Arka. Ia tertawa lemah. "Sumpah. Pisau doang."


Pak Dimas langsung maju. "Bos, duduk. Luka tembak atau pisau?" 


"Pisau," kata Arka. Ia lepas pelukan Nayla. Tapi tangannya masih genggam tangan Nayla. Tidak mau lepas. "Dion lari ke hutan. Aku kejar. Dia nyerang dari belakang."


Pak Dimas langsung ambil kotak P3K. "Nyonya, bantu Bos buka baju."


Nayla nurut. Tangannya gemetar buka kancing baju Arka. 


Di lengan kanannya, luka sobek sepanjang 10 cm. Dalam. Darah masih keluar meski udah ditahan baju. 


"Astaga," isak Nayla. 


"Tenang," kata Arka. Ia pegang dagu Nayla. Paksa Nayla lihat matanya. "Lihat aku. Aku hidup. Itu yang penting."


Nayla mengangguk. Air mata jatuh di luka Arka. 


"Jangan nangis di lukanya," kata Arka. "Nanti infeksi." 


Nayla ketawa di tengah nangis. "Masih bisa becanda."


Pak Dimas bersihin luka. Alkohol. Arka tidak ngeluarin suara sama sekali. Cuma rahangnya yang mengeras. 


"Selesai," kata Pak Dimas. Ia balut. "Harus ke dokter, Bos." 


"Tidak," kata Arka cepat. "Dion masih di sini. Aku gak bisa lemah sekarang."


Nayla duduk di lantai depan Arka. Menggenggam tangan Arka yang tidak luka. 


"Dion?" tanyanya. Suaranya serak. 


"Lari," kata Arka. Matanya dingin. "Licin kayak belut. Tapi aku kena dia juga. Di perut. Dia luka. Kali ini aku yang bikin dia kabur."


Nayla mengangguk. Lega. Tapi juga takut. 


"Dia nelpon aku siang tadi," kata Nayla. "Dia bilang lihat rumah ini. Dia ngancam."


"Aku tahu," kata Arka. Ia menarik Nayla ke pangkuannya. Tidak peduli lukanya. "Itu sebabnya aku harus cepat. Dia main psikologi. Bikin kau takut. Bikin aku pecah."


Nayla menatap Arka. "Kau janji tidak ninggalin aku." 


"Aku ingat," kata Arka. Jempolnya ngusap pipi Nayla. "Dengerin aku baik-baik, Nayla. Dion itu beda sama Revan. Revan mau uang. Dion mau darah. Dan dia obsesi sama kau. Karena kau kelemahanku."


Nayla menegang. "Aku?" 


"Iya. Dia tahu kalau dia dapet kau, aku akan hancur. Jadi mulai sekarang, kau gak ke mana-mana tanpa aku. Warung tutup. Kita pindah ke mansion Jakarta. Sekarang."


Nayla mengerut. "Tidak."


Arka mengerut juga. "Apa?" 


"Aku bilang tidak," kata Nayla. Suaranya kecil. Tapi keras. "Aku gak mau lari, Arka."


"Nayla..." 


"Ini rumah aku," kata Nayla. Air mata jatuh lagi. "Rumah kita. Kita baru nikah 1 hari di sini. Kalau kita lari sekarang karena takut, Dion menang. Dia mau kita takut. Jadi kita gak boleh takut."


Arka menatapnya lama. Marah. Takut. Bangga. Campur aduk. 


"Kau keras kepala," katanya akhirnya. 


"Kau yang nikahin aku," balas Nayla. Ia senyum. Sedih. "Jadi terima."

Lihat selengkapnya