Jam setengah tujuh pagi, rumah kayu di pinggir sawah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Matahari baru mengintip dari balik gunung, tapi sinarnya belum sanggup menghangatkan udara. Kabut tebal menggantung rendah di atas pematang, membuat seluruh desa seperti ditutup selimut putih. Suara ayam yang biasanya ramai pun entah kemana. Yang terdengar cuma bunyi air hujan semalam yang masih menetes dari atap, dan napas tertahan dari orang-orang di dalam rumah.
Nayla sudah duduk sejak subuh. Ia tidak tidur semalaman. Di depannya, Mbok Wati terbaring di atas tikar, kepalanya diperban putih yang sudah mulai menguning karena darah. Mbok Wati sudah sadar, tapi tubuhnya lemah. Setiap kali ia mencoba mengangkat kepala, rintihan kecil keluar dari bibirnya.
"Nona..." suara Mbok Wati serak. "Maafkan Mbok ya. Mbok yang ceroboh. Mbok kira sudah aman..."
Nayla langsung menggenggam tangan Mbok yang keriput itu. Tangannya dingin. "Jangan ngomong gitu, Mbok. Ini bukan salah Mbok. Sama sekali bukan."
Air mata Nayla jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia menyeka pipi Mbok dengan ujung selimut. "Mbok istirahat. Jangan mikirin apa-apa. Yang penting Mbok hidup."
Di ruang tamu, Arka berdiri seperti patung. Sejak kembali jam dua pagi dengan luka di lengan, ia belum duduk sedetik pun. Bajunya masih basah, rambutnya berantakan, dan matanya merah menyala. Di tangannya ia meremas selembar kertas cokelat sampai lecek. Kertas itu sudah ia baca seratus kali, tapi isinya tetap sama dan tetap membuat darahnya mendidih.
Jam dua belas siang. Kau sendirian. Ke gudang tua di ujung sawah. Kalau bawa siapa-siapa, ibu ini mati.
Tanda tangan di bawahnya cuma satu huruf. D.
Pak Dimas duduk di lantai, di depan meja rendah. Di atas meja ada peta desa yang ia gambar sendiri dengan pensil. "Bos," katanya pelan. "Gudang tua itu bekas lumbung padi milik kepala desa. Sudah kosong lima tahun. Lokasinya di ujung sawah selatan, nempel sama hutan bambu. Gak ada listrik di sana. Gak ada sinyal juga. CCTV kita gak nyampe."
Arka tidak menoleh. Ia hanya menatap keluar jendela, ke arah sawah yang kosong. "Dia sengaja pilih tempat itu. Satu pintu masuk. Gelap. Kalau kita masuk rame-rame, Mbok yang jadi tumbal pertama."
"Betul, Bos." Pak Dimas menghela napas. "Dion pinter. Dia ngerti cara main kau."
Hening lagi. Hanya suara napas Arka yang makin berat.
Dari dapur, Nayla mendengar semua. Ia menggendong Mbok Wati supaya lebih nyaman, lalu mencium kening Mbok pelan. "Mbok, pejamin mata ya. Nanti Nona balik."
Mbok Wati menggenggam tangan Nayla dengan sisa tenaganya. "Nona mau kemana?"
Nayla tersenyum, tapi senyumnya pecah. "Nona mau bicara sama orang jahat itu, Mbok. Biar Mbok cepat pulang."
Ia berdiri. Lututnya gemetar, tapi ia paksa untuk tegak. Ia berjalan ke ruang tamu.
Arka langsung menoleh ketika melihatnya. "Kau harusnya istirahat."
"Aku gak bisa istirahat," kata Nayla. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Arka, kita harus ngomong."
"Gak ada yang perlu dibicarakan," potong Arka. "Kau tetap di sini. Titik."
Nayla menggeleng. Ia maju sampai berdiri tepat di depan Arka. "Surat itu buat aku. Dion mau aku. Kalau aku gak datang jam dua belas, dia bunuh Mbok. Kalau aku datang sama kau, dia juga bunuh aku. Jadi aku cuma punya satu pilihan."
"Dan pilihan itu bukan kau mati," bentak Arka. Ia menahan bahu Nayla. Kuat. "Kau pikir aku bisa hidup kalau kau kenapa-kenapa? Semalam aku janji sama kau. Aku janji akan hidup untuk kau. Jadi kau juga harus janji hidup untuk aku. Dengan tetap di sini."
Nayla menatap mata Arka. Di sana ada takut. Takut yang nyata. Bukan takut kehilangan uang, bukan takut kehilangan nama. Tapi takut kehilangan dia.
"Aku tahu kau takut," bisik Nayla. Ia mengangkat tangan dan meletakkannya di pipi Arka yang kasar. "Aku juga takut. Tapi Arka, kalau Mbok mati karena aku, aku gak akan pernah bisa maafin diri aku sendiri. Aku akan benci hidup aku. Kau mau lihat aku kayak gitu?"
Arka diam. Rahangnya mengeras sampai sakit.
Pak Dimas ikut angkat bicara. "Bos, Nyonya ada benarnya. Dion mau mancing Bos. Kalau Bos datang, dia sudah siap. Tapi kalau Nyonya yang datang sendiri, mungkin dia lengah. Mungkin dia mau bicara dulu. Kita bisa manfaatin waktu itu."
"Mungkin," kata Arka getir. Ia melepas genggamannya di bahu Nayla. "Dunia ini gak jalan di kata mungkin, Dimas."