Gadis desa milik mafia kejam

Fauzani
Chapter #14

Chapter#14 : jam dua belas


Darah Mbok Wati masih menetes ke tikar. 

Tetes... tetes... tetes...


Suara itu satu-satunya yang Nayla dengar sekarang. 

Pisau di tangan Dion berkilau pantulan cahaya lampu teplok yang redup. 


"Jam dua belas, Kak Ipar." Dion tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Waktumu tinggal 5 jam. Arka harus datang dengan 2 Miliar. Atau..."


Ujung pisau itu diarahkan ke leher Mbok Wati yang terbaring tak sadarkan diri.


Nayla mengepalkan tangan. Kukunya menusuk telapak. 

Dia takut. Sangat takut. Tapi kalau dia menangis sekarang, Mbok Wati benar-benar akan mati.


"Apa yang kalian mau sebenarnya?" Suara Nayla serak. "Uangnya? Ambil saja. Jangan sakiti Mbok."


Dion tertawa. "Uang? Kami mau lebih dari itu, Nayla. Kami mau Arka Wijaya bertekuk lutut. Kami mau dia merasakan apa yang ayahku rasakan waktu perusahaannya dihancurkan dia."


Pak Dimas berdiri di dekat pintu. Badannya besar, menghalangi jalan keluar. Senjata terselip di pinggangnya. 


"Jangan banyak omong, Dion." Pak Dimas menggeram. "Bos bilang jam 12 pas. Lewat semenit, perempuan tua itu mati."


Nayla melirik ke jendela. Kabut masih tebal. Sawah di luar seperti lautan putih. 

Ponselnya disita sejak tadi malam. Tidak ada cara untuk menghubungi Arka.


_Arka... dimana kamu?_


Di kota, 3 jam perjalanan dari desa ini. 


Di kantor lantai 32, Arka Wijaya melempar ponselnya ke sofa. Wajahnya dingin seperti es. 

Di depannya, layar laptop menampilkan titik merah. Titik itu bergerak pelan. Lokasi GPS jam tangan Nayla.


"Desa Sukamaju." Suara asistennya, Rian, bergetar. "Gudang tua di pinggir sawah, Bos."


Arka berdiri. Jasnya diambil. 

"Siapkan 2 Miliar. Tunai. Dan 20 anak buah. Senjata lengkap."


"Apa kita tidak lapor polisi, Bos?"


Arka menoleh. Mata hitamnya menyala. 

"Kalau polisi masuk, Nayla mati. Aku yang akan masuk. Aku yang akan menghabisi mereka."


Rian menelan ludah. Dia sudah 5 tahun jadi asisten Arka. Baru kali ini melihat bosnya seperti ini. Panik. Marah. Takut.


Jam di dinding menunjukkan pukul 07.15


---


Kembali ke rumah kayu.


Mbok Wati menggeliat pelan. Matanya terbuka sedikit. 

"Nay... la..." bisiknya lirih.


"Mbok!" Nayla langsung merangkak mendekat. Memegang tangan keriput itu. "Mbok, tahan ya. Arka pasti datang."


Mbok Wati tersenyum lemah. Darah di kepalanya sudah mengering. "Kamu... jangan... takut nak. Kamu... kuat."


"Aku tidak kuat Mbok, tanpa kamu." Air mata Nayla akhirnya jatuh. "Tolong jangan tinggalin aku."


Dion berjongkok di depan mereka. Ia mencubit dagu Nayla paksa. 

"Menangis? Bagus. Biar videonya lebih sedih pas aku kirim ke Arka." 


Ponsel Dion menyala. Kamera diarahkan ke wajah Nayla yang basah air mata, dan Mbok Wati yang berlumuran darah.


"Sen...yum, Kak Ipar." 


Nayla menatap lensa itu. Di dalam hatinya ada api. Api yang sudah lama padam sejak dia jadi gadis desa miskin.


Dia bukan lagi Nayla yang penakut. 


Dia Nayla Srikandi. Anak dari kepala desa yang dulu mati karena difitnah Arka.


Dan hari ini, dia akan bertarung.


---


Jam 08.30


Arka sudah di jalan. Mobil hitamnya melaju seperti kilat menembus kabut. 

Di kursi penumpang ada koper berisi uang. Di belakang, 4 mobil lagi mengikuti.


Telepon Rian masuk. 

"Gimana, Bos?"


"20 menit lagi sampai." Suara Arka datar. "Kirim tim penyusup dari belakang sawah. Jangan ketahuan."


"Siap."


Arka menutup telepon. Tangannya mengepal di setir. 

_Nayla, bertahanlah. Jangan mati sebelum aku datang. Karena kalau kau mati, aku akan membakar desa ini._


---


Jam 10.00


Di dalam gudang, Dion mulai gelisah. 

"Kenapa belum ada kabar?" Ia berjalan mondar-mandir. 


Pak Dimas meludah. "Tenang. Arka Wijaya itu pengecut. Dia pasti takut."


Nayla duduk di sudut. Mbok Wati sudah pingsan lagi di pangkuannya. 

Otak Nayla bekerja cepat. Ada sabit di dekat lumbung padi. Ada ember air. Ada minyak tanah.


_Kalau aku tidak bisa lari, aku akan buat mereka sibuk._


Dia melirik Dion yang lengah sebentar, main ponsel. 

Pelan-pelan, Nayla menggeser tubuhnya. Mengambil gagang sabit dengan kaki. Menariknya ke belakang tubuhnya.


Jam 11.00


Titik merah di GPS Arka sudah berhenti. 

"Mereka di sana, Bos." Rian menunjuk gudang dari kejauhan.


Arka turun dari mobil. Jas hitam. Tangan kosong. Hanya koper uang. 

"Ikuti rencananya. Tunggu aba-abaku."


Ia berjalan sendiri ke pintu gudang. 


Tok. Tok. Tok.


Pintu dibuka Pak Dimas. Matanya menyipit. 

"Datang juga akhirnya, Bos Mafia."

Lihat selengkapnya