Satu bulan setelah pernikahan.
Rumah Arka Wijaya terasa terlalu besar untuk berdua.
Apartemen penthouse lantai 48. Kaca dari lantai ke langit-langit. Pemandangan kota Medan di bawah kaki.
Tapi dingin.
Nayla duduk di sofa. Perutnya sudah tidak sakit lagi. Bekas lukanya tinggal garis tipis.
Di pangkuannya ada buku resep masakan. Tangannya gemetar.
Sudah sebulan dia jadi `Nyonya Wijaya`.
Tapi status itu tidak membuat Arka berhenti kerja 20 jam sehari.
Pulang jam 2 pagi. Pergi jam 6 pagi.
Mereka tidur di ranjang yang sama. Tapi dengan jarak 1 meter.
"Tok tok tok"
Suara ketukan pintu. Pelan. Sopan.
Nayla berdiri. Jantungnya aneh. Sejak kejadian di gudang, dia jadi gampang cemas.
Pintu dibuka.
Berdiri seorang wanita. Usia sekitar 50 tahun. Rambut sanggul rapi. Baju batik mahal. Kalung mutiara. Senyumnya manis. Tapi matanya... menilai.
"Assalamualaikum. Nayla ya?"
Nayla mengangguk. "Iya Bu. Ibu siapa?"
"Aku Bu Ratna. Ibu tirinya Arka." Wanita itu masuk tanpa diundang. Seperti pemilik rumah. "Boleh aku masuk? Anakku mana?"
Nayla menutup pintu. Tangannya dingin. `Ibu tiri`.
Selama ini Arka tidak pernah cerita punya ibu tiri.
"Arka belum pulang Bu. Biasanya jam 2 pagi." Jawab Nayla hati-hati.
Bu Ratna duduk di sofa. Menatap sekeliling. "Hm. Rumah bagus. Tapi kosong. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada bunga. Seperti hotel."
Nayla diam.
"Aku dengar cerita kamu." Bu Ratna menatap Nayla dari atas ke bawah. "Gadis desa. Ayahnya punya utang. Terus nikah sama Arka karena dipaksa ya?"
Nayla mengepalkan tangan. "Kami... sudah saling cinta, Bu."
"Oh?" Bu Ratna tertawa kecil. "Cinta. Anakku itu tidak kenal cinta, Nak. Dia kenalnya bisnis dan balas dendam."
Sebelum Nayla bisa jawab, pintu kebuka keras.
Arka masuk. Jasnya masih dipakai. Wajahnya lelah. Tapi saat melihat Bu Ratna, rahangnya mengeras.
"Ibu ngapain di sini?" Suaranya dingin.
Bu Ratna berdiri. Merangkul Arka. "Kangen dong sama anak. Katanya kamu nikah? Kok nggak ngundang ibu?"
Arka melepaskan pelukan itu. Berjalan ke Nayla. Menggenggam tangan Nayla.
"Ibu tiri. Bukan ibu."
Kata itu seperti pisau.
Wajah Bu Ratna berubah. "Arka. Jangan kasar begitu. Aku yang membesarkan kamu setelah ibumu meninggal."
"Kamu membesarkan aku untuk menguasai perusahaan ayah." Arka menarik Nayla ke sampingnya. "Ada perlu apa?"
Bu Ratna menatap Nayla. Senyumnya hilang. "Aku dengar kamu hampir mati karena ulah musuhmu. Kasihan. Gadis desa seperti kamu tidak cocok di dunia kami, Arka. Bahaya."
"Nayla istriku." Arka menegaskan. "Dan dia akan tetap di sini."