`JAM 1 MALAM - 2 JAM SETELAH WA ITU`
Rumah Wijaya lampu terang semua.
Rian + 20 anak buah Arka standby. CCTV diputer ulang 10x.
Arka duduk di ruang kerja. Jasnya dilepas. Kemeja digulung.
Di layar: video Ares main di halaman TK tadi pagi.
Di pojok video, ada bayangan orang pake topi. Foto zoom. Wajah ketutup.
Nayla gendong Ares yang udah tidur. Tangannya gemetar.
"Arka... itu siapa?"
Arka gak jawab. Rahangnya ngeras. "Rian."
"Siap Bos."
"Lacak nomor itu. Lacak orang di video. 24 jam. Kalau gak ketemu..."
Dia gak lanjutin. Tapi semua orang di ruangan tau maksudnya.
Nayla peluk Ares kenceng. "Arka, aku takut."
Arka narik Nayla ke pelukannya. "Shhh. Gak ada yang bisa nyentuh kalian. Aku sumpah mati."
Malam itu gak ada yang tidur.
---
`JAM 7 PAGI - TK BUNGA BANGSA`
Arka anterin Ares. Kali ini bawa 10 bodyguard. 2 mobil anti peluru.
Guru-guru sampai pucat.
"Pak... ini..."
"Diemb. Ajarin aja." Arka jongkok di depan Ares. "Denger ya. Jangan sama orang asing. Kalau ada yang manggil, teriak nama papa."
Ares angguk serius. "Siap Komandan!"
Arka kecup kening Ares. "Pinter. Papa jemput jam 12 ya."
Baru 1 jam di kantor, Rian nelpon.
"BoS! KETEMU!"
Arka langsung berdiri. "Dimana?"
"Gudang kosong di pinggiran Medan. 3 orang. Bawa senjata."
"Siapin mobil."
---
`GUDANG - SIANG`
3 orang diiket di kursi. Mulut dilakban.
Arka masuk. Pelan.
"Siapa yang nyuruh?" Suaranya datar. Mati.
Yang tengah geleng-geleng. Takut.
Arka jongkok. Copot lakban. "Ngomong."
"Saya... saya gak tau Pak. Ada yang bayar 50 juta. Suruh foto anak bapak. Suruh ancam."
"Siapa yang bayar?"
"Kami... kami gak tau. Transfernya dari rekening luar negeri."
Arka diem. Ngeluarin pisau.