`12.03 MALAM - JALAN GELAP MENUJU GUDANG`
Hujan deres.
Arka nyetir sendiri. Jas basah. Mata merah.
Di sebelahnya ada koper hitam. Isinya 50M cash + flashdisk bukti semua kejahatan Alina 20 tahun.
HP di dashboard nyala. Suara Nayla.
"Tolong... Arka..." Suaranya ketahan.
"Arka... Ares demam lagi..."
Arka genggam setir sampe buku-buku jarinya putih. "Sayang, denger aku. Bertahan ya. 10 menit lagi papa sampe."
"Jangan... jangan kesini..." Nayla nangis. "Dia gila Arka."
"Tutup mulut." Suara Alina nyelip. Dingin. "Satu kata lagi, aku tusuk anakmu."
_Tut_
Telepon mati.
Arka ngebanting setir. "ALINAAAA!!!"
---
`GUDANG TUA - PELABUHAN BELAWAN`
20 anak buah Arka ngepung dari luar. Tapi Arka larang masuk.
"Jangan ada yang gerak sebelum aku bilang."
Dia masuk sendirian. Tangan kosong. Cuma bawa koper.
Di dalam gelap. Cuma ada 1 lampu gantung.
Nayla duduk di kursi, tangan diikat. Mulut disumpal. Pipinya lebam.
Ares dipeluk Alina. Demam. 39 derajat. Nangis pelan. "Ma... ma..."
Alina pake dress putih. Senyum. "Tepat waktu, Kak."
Arka berhenti 3 meter dari mereka. "Lepasin mereka."
"Gak segampang itu." Alina elus rambut Ares. Ares meronta. "Kamu tau gak rasanya nunggu 20 tahun buat balas dendam?"
Arka buang koper ke lantai. _Duk_
"Ini 50M. Semua data yang kamu mau. Lepasin istri sama anak aku."
Alina ketawa. "Murah. Nyawa adikku dulu gak ada harganya?"
"Sinta bukan kamu yang bunuh!" Arka bentak. "Dia mati karena kecelakaan pas kamu culik!"
Wajah Alina berubah. "DIAM!"
"Enggak." Arka maju selangkah. "20 tahun kamu nyalahin aku. Padahal kamu yang ngebunuh dia."
Alina ngeluarin pisau. Deketin ke leher Ares.
Ares langsung jerit. "PAPAAA!!!"