Hujan deres.
Arka nyetir sendiri. Jas hitamnya basah kuyup, air hujan netes dari ujung lengan ke jok mobil. Mata merah. Bukan karena ngantuk. Tapi karena marah, takut, dan capek yang udah numpuk 3 hari ini.
Di sebelahnya ada koper hitam. Berat. Isinya 50M cash + flashdisk bukti semua kejahatan Alina 20 tahun.
Tangannya gemetar waktu megang setir. Bukan karena takut sama Alina. Tapi karena satu kalimat terakhir dari Nayla yang masih keulang di kepalanya.
HP di dashboard nyala. Nama "Sayang" muncul. Arka langsung angkat pake speaker.
"Tolong... Arka..." Suaranya ketahan. Serak. Kayak orang yang udah nangis berjam-jam.
"Arka... Ares demam lagi..."
Jantung Arka copot.
Ares. Anaknya. Baru 3 tahun. Demam 39°C dari kemarin karena kehujanan pas mereka kabur dari rumah Alina.
"Sayang, denger aku. Bertahan ya. 10 menit lagi papa sampe." Suara Arka dipaksa tenang. Padahal dadanya mau meledak. "Kasih Ares minum air putih dulu. Kompres pake handuk basah."
Di seberang, Nayla terisak. "Aku udah... tapi dia..."
"Jangan... jangan kesini..." Potong Nayla tiba-tiba. Suaranya panik. "Dia gila Arka. Dia bawa pisau."
Dunia Arka berhenti sedetik.
"SIAPA SAYANG? SIAPA YANG DI SANA?!" bentaknya. Genggamannya di setir sampe buku-buku jarinya putih.
"Tut... tut... tut..."
Sambungan putus.
Arka maki dalam hati. Dia banting HP ke jok. Kakinya nekan gas sampe mentok. Mobil melesat di jalanan licin. Hujan makin deras, wiper gak sanggup ngejar airnya.
Di kepalanya muter satu nama: `Alina`. Pasti dia. Cuma dia yang segila itu.
20 tahun. 20 tahun Alina main kotor di belakang Arka. Nyolong uang perusahaan, nyogok polisi, sampe bikin kecelakaan yang ngerenggut nyawa adik Arka. Semua bukti ada di flashdisk itu.
Tapi sekarang itu gak penting.
Yang penting Nayla. Yang penting Ares.
15 menit yang kerasa kayak 1 jam. Akhirnya Arka sampe di depan rumah kontrakan Nayla. Rumah petak kecil di ujung gang. Lampunya mati. Pintu depan kebuka sedikit.