Jakarta. Jam 02.14.
Alina duduk di kamar hotel murah di daerah Mangga Dua. Kipas angin berisik. Bau apek.
Gak ada AC. Gak ada pembantu. Gak ada emas 50M di lemari.
Di depannya TV kecil nyala. Breaking News:
`"PENGUSAHA TERKENAL TERLIBAT KASUS PENYUAPAN. BUKTI DISITA POLISI."`
Foto Arka terpampang. Lengan diperban. Jalan gandengan sama Nayla.
Alina ngelempar remote. Brak!
"SIALAN KAMU ARKA!!"
20 tahun. 20 tahun dia bangun semua ini. Dari nol. Dari jadi selingkuhan bapaknya Arka sampe jadi nyonya rumah.
Sekarang hancur gara-gara "gadis desa" itu.
HP jadulnya bunyi. Nomor tak dikenal.
"Halo?" Suaranya bergetar marah.
"Nyonya... gagal. Si Arka keburu dateng. Anak buah kita masuk RS."
Alina ketawa. Ketawa gila. "Gagal? KALIAN SEMUA GAGAL!"
Dia matiin HP. Lempar ke tembok. Pecah.
Di tangannya cuma ada 1 hal: KTP palsu + tiket kapal ke Singapura jam 6 pagi.
Kalau Arka udah lapor polisi, dia gak punya waktu banyak.
Tapi sebelum pergi... dia mau liat Nayla hancur dulu.
Dia mau Arka ngerasain apa yang dia rasain 20 tahun: kehilangan.
Alina senyum. Senyum yang dingin.
"Permainan belum selesai, Tuan Arka."
*POV ARKA*
Jam 06.00. RS Mitra Keluarga.
Arka udah gak bisa diem. Perban di lengannya gatel. Tapi dia harus gerak.
Pengacaranya, Pak Hendra, udah nunggu di lobi sama 2 polisi.