Gadis itu Bernama MAURA

Ahmad Barnash
Chapter #2

Cat yang Tidak Pernah Kering

Aroma terpentin dan minyak linseed selalu menjadi mesin waktu bagiku. Setiap kali aku melangkah masuk ke ruang seni SMA setelah bel pulang sekolah berbunyi, udara pengap yang dipenuhi bau kimiawi itu seolah-olah menyeret tanganku kembali ke masa sepuluh tahun lalu. Ke sebuah dapur kecil yang berantakan, di mana Ibu sering duduk menghadap kanvas dengan daster yang penuh bercak warna, membimbing jemariku yang masih mungil untuk mengenal gradasi langit.

Ibu pernah bilang bahwa cat minyak adalah medium yang paling jujur karena ia tidak pernah benar-benar mengering dengan cepat. Ia memberimu waktu untuk berubah pikiran, untuk mengoreksi goresan yang salah, atau sekadar membiarkan emosimu mengendap di sela-sela pigmennya. Bagiku, melukis adalah satu-satunya cara untuk tetap menjalin percakapan dengan Ibu yang telah lama pergi, satu-satunya tempat di mana "kekosongan" itu bisa kuisi dengan warna.

Sore itu, ruang seni tampak begitu tenang. Cahaya matahari pukul empat menerobos masuk melalui jendela-jendela besar yang berdebu, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Di sudut ruangan, aku berdiri menghadap kanvas yang masih setengah jadi. Aku mencoba menangkap sisa-sisa hujan dari pertemuan di kantin kemarin—hujan biru muda yang menenangkan.

Lalu, tanpa suara pintu terbuka, aku merasakannya lagi.

Kehadiran itu.

Di kursi kayu panjang yang terletak di seberang easel-ku, seorang gadis duduk dengan sangat tenang. Ia mengenakan cardigan putih yang tampak kontras dengan latar belakang ruang seni yang kusam. Rambut hitam panjangnya tergerai, berkilau saat terkena bias cahaya sore. Ia tidak bicara. Ia hanya duduk di sana, menyilangkan kaki, dan memperhatikanku dengan tatapan yang sangat dalam seolah-olah aku adalah objek seni yang sedang ia pelajari.

Aku tidak menoleh. Aku memaksa jemariku tetap stabil, menggoreskan warna biru kobalt di atas kanvas putih. Di dalam benakku, ada suara yang berbisik bahwa ini tidak mungkin. Tidak ada siswi lain yang punya alasan untuk berada di sini setelah jam pelajaran berakhir, apalagi siswi secantik dia. Namun, kehangatan yang terpancar dari arahnya terasa begitu nyata, menembus lapisan dingin kesepian yang selama ini melingkupiku.

"Garis itu terlalu kaku," ucapnya tiba-tiba.

Suaranya lembut, namun cukup jelas untuk memecah keheningan ruangan. Aku menghentikan gerakan kuasku. Jantungku berdebu lebih kencang dari yang seharusnya. Aku perlahan menoleh ke arahnya, mencoba memastikan bahwa mataku tidak sedang menipuku di bawah pengaruh cahaya sore yang manipulatif.

Lihat selengkapnya